Senyum Manis, Niat Licik
Rina (bukan nama sebenarnya) masih ingat pertama kali bertemu Arya di sebuah kafe di Kemang, Jakarta Selatan. Ia sopan. Murah senyum. Selalu bayar makan malam. Tapi setelah tiga bulan dekat, Rina mulai merasa ganjil: Arya kerap menghilang tanpa kabar, lalu muncul dengan alasan sibuk kerja. Ia juga sering pinjam uang untuk 'modal bisnis' yang tak kunjung jelas. Rina bertanya dalam hati: apakah ini cinta — atau sekadar eksploitasi?
Di Indonesia, fenomena ini bukan baru. Survei Direktorat Jenderal Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) tahun 2025 mencatat: 68% perempuan pernah mengalami kekerasan emosional dalam hubungan — termasuk dimanfaatkan secara psikologis. Angka itu naik 12% dari lima tahun lalu.
Pertama: Dia Ambil Terus, Tak Pernah Beri
Dalam hubungan sehat, ada timbal balik. Lelaki yang memanfaatkan tidak. Ia minta traktir. Pinjam motor. Minta bantuan — semua atas nama 'kesetiaan'. Psikolog klinis Universitas Indonesia, Dr. Maya Sari, menjelaskan: "Jika dia selalu diuntungkan, dan kamu selalu mengalah, itu tanda bahaya. Kasih sayang sejati tidak pernah satu arah."
Contohnya Dewi di Surabaya. Ia kehilangan Rp15 juta dalam setahun — semua untuk lelaki yang mengaku pengusaha. Nyatanya, uang itu dipakai foya-foya. Kasus seperti ini jarang dilaporkan. Bukan karena tak ada bukti — tapi karena malu, atau takut dihakimi.
Kedua: Cinta Tanpa Nama, Tapi Penuh Tuntutan
Lelaki pemanfaat menghindari label. Hadir saat butuh. Menghilang begitu selesai. "Mereka pakai ambiguitas sebagai alat kendali," kata Dr. Maya. "Kamu terus berharap. Dia bebas berbuat apa saja."
Sari, mahasiswi di Bandung, dekat dengan seorang lelaki selama dua tahun — tapi tak pernah diakui sebagai pacar. "Dia bilang tak mau terikat, tapi minta perhatian penuh. Aku sadar setelah dia minta bantuan bayar SPP-ku," katanya. Kini Sari aktif di komunitas relawan anti kekerasan emosional.
Budaya Patriarki yang Menyamarkan Bahaya
Ungkapan seperti 'cowok wajib ngejar' atau 'jangan terlalu banyak menuntut' sering jadi tameng bagi lelaki tak serius. "Perempuan diajarkan sabar dan mengalah — padahal itu justru dimanfaatkan," tambah Dr. Maya.
Tapi kesadaran mulai tumbuh. Konten red flags ramai di TikTok dan Instagram. Komunitas seperti 'Perempuan Berdaya' dan 'Lawan Manipulasi' rutin gelar webinar. Buku *Why Does He Do That?* laris di toko buku — bukan sebagai bacaan hiburan, tapi sebagai panduan bertahan.
Enam Tanda Lain yang Tak Boleh Diabaikan
Selain dua ciri di atas, waspadai juga: (3) kritik terus-menerus, (4) posesif dan cemburu buta, (5) memutus komunikasi sebagai hukuman, (6) mengabaikan prestasimu, (7) selalu menyalahkanmu, dan (8) menolak berkompromi. Jika empat atau lebih muncul — jangan ragu: ini bukan hubungan, tapi pola kontrol.
Data Komnas Perempuan menunjukkan: 89% kasus kekerasan dalam pacaran berawal dari manipulasi emosional. "Sebelum fisik, sudah ada tekanan psikis. Itulah yang harus dicegah," kata Komisioner Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor.
Saatnya Bertindak — Bukan Sekadar Sadar
Mengenali tanda adalah langkah pertama. Langkah berikutnya: tegas. Dr. Maya menyarankan membuat batasan jelas. "Jika dia tak menghormatinya — tinggalkan. Cinta sejati tak membuatmu merasa habis terpakai."
Di Yogyakarta, kelompok dukungan 'Sahabat Perempuan' menyediakan konseling gratis dan pendampingan hukum. Tika, salah satu anggotanya, mengaku dulu merasa tak berharga. Kini ia tahu: dirinya layak bahagia — tanpa harus membayar harga cinta dengan kehilangan diri.
Akhir yang Jujur, Bukan Akhir yang Manis
Kasus Rina terungkap: Arya ternyata punya pacar di kota lain. Rina kini lebih selektif. Ia bagikan pengalamannya di Instagram — dan mendapat ribuan komentar dari perempuan dengan kisah serupa. Dari situlah ia sadar: yang dialaminya bukan cinta. Tapi eksploitasi.
Hubungan harus saling menguatkan — bukan menguras. Seperti pepatah modern yang mulai bergema di kampus, kafe, dan ruang obrolan daring: *Jangan takut kehilangan orang yang tidak takut kehilanganmu.*
Bantuan Nyata, Bukan Sekadar Nasihat
Jika kamu atau temanmu mengalami hal serupa, bantuan tersedia. Layanan Pengaduan Kekerasan Perempuan dan Anak (Kemen PPPA) bisa dihubungi lewat nomor 129, atau WhatsApp 08111-129-129. Atau hubungi Yayasan Pulih di (021) 7884-2287. Jangan biarkan dirimu terus termakan buaian — bantuan itu nyata, dan hakmu untuk memintanya.
