TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Buku Ini Memprediksi Krisis Ekonomi 2008 — Padahal Ditulis 167 Tahun Sebelumnya

Pada tahun 1841, seorang jurnalis Skotlandia bernama Charles Mackay menerbitkan sebuah buku yang tampak seperti kumpulan cerita aneh — tentang alkimia, rumah berhantu, dan penipuan kereta api. Tapi di balik narasi yang mengalir seperti novel detektif, terselip prediksi tepat tentang bagaimana manusia *selalu* jatuh ke dalam jurang yang sama: kegilaan beramai-ramai. Dan buktinya? Bukan mitos — tapi data sejarah yang diulang, dari Tulipmania hingga Lehman Brothers.

27 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds
Buku Ini Memprediksi Krisis Ekonomi 2008 — Padahal Ditulis 167 Tahun Sebelumnya
Imej: Foto: Wikipedia — Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds (CC BY-SA 4.0)
AI

Malam itu, di sebuah pejabat suratkabar Edinburgh, jam menunjukkan pukul 2.17 pagi

Lampu minyak berkedip-kedip. Charles Mackay — jurnalis berusia 32 tahun, mata merah, jari berdebu tinta — menutup buku catatan ketiganya. Di dalamnya tertulis nama-nama: Tulipmania, Mississippi Scheme, South Sea Bubble. Bukan sebagai fakta sejarah biasa. Tapi sebagai siklus. Sebagai pola. Sebagai gejala yang berulang seperti nafas manusia. Dia tidak sedang menulis laporan ekonomi. Dia sedang menyusun sebuah peta jiwa kolektif — satu-satunya peta yang menunjukkan di mana akal sehat lenyap, dan ganti dengan suara ribuan orang yang berbisik serentak: ‘Kali ini berbeda.’

‘National Delusions’: Ketika Seluruh Negara Percaya Bahwa Bunga Bisa Bernilai Seperti Emas

Bayangkan Amsterdam tahun 1637. Sehelai bunga tulip — tanaman biasa yang tumbuh di tanah berpasir — tiba-tiba dijual dengan harga setara sepuluh kali gaji tahunan tukang kayu. Satu umbi ‘Semper Augustus’ ditukar dengan: dua ton mentega, empat ekor lembu, satu set perabot mewah, dan sebuah rumah di pusat kota. Orang menjual hartanah, meminjam uang dari bank, bahkan menggadai anak-anak mereka — hanya untuk memiliki sesuatu yang akan layu dalam tiga minggu. Mackay tidak mengejek. Dia mengamati. Dalam bab ‘National Delusions’, dia menunjukkan: bukan kebodohan individu yang membawa kejatuhan itu — tapi mekanisme psikologi beramai-ramai: kehilangan rasa risiko ketika semua orang di sekelilingmu melakukan hal yang sama. Ia bukan sejarah — ia adalah protokol pengulangan.

‘Peculiar Follies’: Rumah Berhantu, Penyihir, dan Ilmuwan yang Dipercaya Karena Suaranya Kuat

Di Tedworth, Wiltshire, tahun 1661, sebuah rumah digoncang oleh ketukan misteri — ‘Drummer of Tedworth’. Penduduk berduyun-duyun datang menyaksikan, pendeta mengadakan doa, dan suratkabar lokal melaporkan ‘bukti roh’. Mackay tidak menyangkal kepercayaan. Tapi dia menunjukkan bagaimana kepercayaan itu merebak: bukan melalui bukti, tetapi melalui pengesahan sosial. Apabila seorang tokoh berpengaruh menyatakan ‘Saya dengar ketukan itu’, maka seribu telinga lain tiba-tiba menjadi lebih sensitif — dan seribu mulut menjadi lebih yakin. Ini bukan magis. Ini neurologi sosial: otak manusia dirancang untuk menyesuaikan diri, bukan untuk menilai. Dan Mackay mencatatnya — dengan tenang, tanpa sindiran — seperti seorang ahli bedah mencatat luka pada kulit.

‘Philosophical Delusions’: Ketika Sains Dipaksa Menjadi Budaya Pop

Mackay juga mengeksplorasi apa yang kini kita sebut misinformation cascade: fenomena di mana ide yang salah tidak hanya tersebar — tapi diromantiskan. Contohnya: ‘magnetiser’ abad ke-18 — dokter palsu yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan menggerakkan tangan di atas tubuh pasien. Ribuan pasien sembuh — bukan karena magnet, tapi karena harapan kolektif yang begitu kuat sehingga memicu respons fisiologis nyata. Mackay menyebut ini ‘kuasa imaginasi yang dipacu oleh keyakinan ramai’. Hari ini, kita menyebutnya placebo effect massal. Dan ya — ia masih terjadi. Dari pil ajaib hingga aplikasi ‘detoks digital’, mekanismenya identik.

Bab Tambahan yang Tak Pernah Dicetak: Ramalan Tersembunyi Tentang Abad ke-21

Edisi kedua buku ini (1852) menambah catatan kecil di tepi halaman: ‘The Railway Mania now exhibits symptoms alarmingly similar to those of the South Sea Bubble.’ — dan di situ, Mackay tidak hanya menggambarkan gelembung kereta api Inggris, tapi menulis formula universal: ‘Menawarkan pulangan tinggi, dengan risiko yang dilupakan, kepada orang yang percaya bahwa mereka lebih pintar daripada generasi sebelumnya.’ Formula itu terulang di Wall Street 1929. Di Tokyo 1989. Di Silicon Valley 2000. Dan di subprime mortgage 2007 — di mana analis kredit menilai risiko berdasarkan data masa lalu, sambil mengabaikan satu fakta: sejarah tidak berulang secara identik — tapi psikologi berulang secara tepat.

Mengapa Buku Ini Masih Dibaca Oleh CEO, Ahli Psikologi, dan Pengawal Risiko Hari Ini?

Bukan karena ia tua. Tapi karena ia tidak menua. Mackay tidak menulis tentang ‘kesalahan zaman lampau’. Dia menulis tentang struktur kognitif manusia — yang tidak berubah sejak Zaman Perunggu hingga era AI. Setiap kali Anda melihat saham naik 300% dalam sebulan, atau tren TikTok yang membuat remaja meminum cuka untuk ‘detoks’, atau komunitas dalam talian yang meyakini teori konspirasi tanpa sumber — Anda sedang menyaksikan bab baru dari buku yang sama. Buku yang tidak pernah benar-benar selesai. Buku yang tidak memerlukan pembaharuan edisi — hanya pembacaan semula.

Dan itulah keajaiban terbesar dari Extraordinary Popular Delusions: ia bukan buku sejarah. Ia adalah cermin. Cermin yang tidak pernah berbohong — hanya menunjukkan wajah kita, berulang-ulang, dalam berbagai topi, berbagai zaman, berbagai nama — tetapi dengan ekspresi yang sama: yakin, gembira… dan sedikit buta.

---
Rujukan: Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds — Wikipedia

Tersedia dalam: