TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

100 Tahun Konflik: Jenazah Inca dari Machu Picchu Akhirnya Dikembalikan ke Yale

Selama satu abad, kerajaan Peru bertarung dengan Universitas Yale untuk mendapatkan kembali ribuan artefak Inca yang diambil dari Machu Picchu. Dari pengadilan internasional hingga rayuan langsung kepada Presiden AS, kisah ini memaparkan pertentangan antara warisan budaya dan kekuasaan akademik. Akhirnya, pada 2010, perjanjian bersejarah dicapai, tetapi apakah itu benar-benar mengakhiri perselisihan?

28 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Peru–Yale University dispute
100 Tahun Konflik: Jenazah Inca dari Machu Picchu Akhirnya Dikembalikan ke Yale
Imej: Foto: Wikipedia — Peru–Yale University dispute (CC BY-SA 4.0)
AI

Siapa yang Mengambil Artefak Machu Picchu dari Peru?

Semuanya bermula pada tahun 1911, ketika seorang penjelajah dan ahli arkeologi Amerika, Hiram Bingham III, secara resmi 'menemukan kembali' Machu Picchu — kota purba Inca yang tersembunyi di puncak Andes Peru. Namun, penemuan itu bukan sekadar pengakuan sejarah. Dalam beberapa tahun berikutnya, Bingham dan timnya mengeluarkan ribuan objek dari situs tersebut, termasuk tembikar, alat batu, dan tulang manusia. Bagi Peru, ini bukan pinjaman sementara seperti yang didakwa Bingham, tetapi perampokan warisan negara. Bingham mengklaim bahwa Yale setuju untuk 'meminjam' artefak itu selama 18 bulan untuk tujuan penelitian. Namun, setelah periode itu berakhir, tidak satu pun objek dikembalikan. Sebaliknya, koleksi itu tetap di Museum Sejarah Alam Peabody Yale di New Haven, Connecticut, menyebabkan kemarahan di Peru yang berlangsung selama beberapa dekade. ## Mengapa Peru Tidak Dapat Menuntut Kembali Artefak Selama 100 Tahun? Pada tahun 1920-an, pemerintah Peru mencoba untuk menuntut kembali artefak itu secara diplomatik, tetapi Yale menolak dengan alasan perjanjian asal yang tidak jelas. Selama bertahun-tahun, dokumen-dokumen yang mendukung klaim Peru hilang atau tidak diungkapkan. Namun, pada tahun 2000-an, arsip Yale sendiri mengungkapkan bahwa Bingham sebenarnya telah membeli atau merampas artefak tanpa persetujuan resmi pihak berwenang Peru. Keadaan semakin tegang ketika Peru mengajukan gugatan di pengadilan AS pada tahun 2006. Meskipun terdapat undang-undang internasional yang melindungi warisan budaya, proses hukum berjalan perlahan dan memakan biaya tinggi. Aktivis Peru dan alumni Yale juga mengadakan kampanye global, menggesa universitas itu untuk bertanggung jawab. Pada tahun 2009, Presiden Peru Alan Garcia secara terbuka meminta Presiden AS Barack Obama untuk campur tangan, menambah tekanan diplomatik yang besar. ## Apa yang Terkandung dalam Perjanjian 2010 Antara Peru dan Yale? Pada 19 November 2010, setelah hampir satu abad konflik, Peru dan Yale akhirnya mencapai kesepakatan. Di bawah perjanjian itu, Yale setuju untuk mengembalikan semua artefak dan sisa manusia Inca yang diambil dari Machu Picchu. Sebagai gantinya, Peru mengakui sumbangan Yale dalam pelestarian dan pendokumentasian artefak tersebut. Sejumlah 360 objek, termasuk tembikar, alat batu, dan beberapa kerangka, akan dikembalikan secara bertahap. Selain itu, Yale dan Universitas San Antonio Abad del Cusco (UNSAAC) menandatangani perjanjian kerja sama untuk mendirikan sebuah museum dan pusat penelitian bersama di Cusco, Peru. Ini memungkinkan Yale terus terlibat dalam penelitian warisan Inca, tetapi dengan kontrol penuh di tangan Peru. Perjanjian ini dianggap sebagai kemenangan bagi gerakan pengembalian artefak budaya di seluruh dunia. ## Bagaimana Reaksi Masyarakat Peru dan Internasional? Ketika berita perjanjian itu diumumkan, rakyat Peru menyambutnya dengan perasaan lega dan bangga. Bagi banyak pihak, ini adalah pembalasan terhadap ketidakadilan kolonial yang berlangsung terlalu lama. Media internasional juga memuji langkah itu sebagai preseden penting dalam perjuangan untuk mengembalikan harta budaya yang diambil secara tidak sah. Namun, ada juga suara kritis yang mempertanyakan apakah perjanjian itu cukup adil. Beberapa aktivis berargumentasi bahwa Yale seharusnya tidak mendapatkan pengakuan apa pun karena peranannya dalam merampas artefak. Tambahan pula, beberapa objek yang dikembalikan ditemukan dalam keadaan rusak, menimbulkan pertanyaan tentang perawatan Yale selama ini. ## Apa Pelajaran yang Bisa Diambil dari Perselisihan Ini? Perselisihan Peru-Yale bukan sekadar kisah perebutan barang antik. Ini mencerminkan ketegangan antara negara bekas jajahan dan institusi Barat yang menguasai narasi sejarah global. Keberhasilan Peru menunjukkan bahwa dengan tekanan diplomatik, hukum, dan dukungan rakyat, adalah mungkin untuk menuntut kembali warisan yang diambil. Kasus ini juga memberikan pelajaran kepada museum-museum besar lain seperti British Museum dan Louvre, yang masih menyimpan ribuan artefak dari negara lain. Ini membuka diskusi tentang etika kepemilikan budaya dan tanggung jawab untuk mengembalikan objek yang diambil secara paksa atau menipu. Bagi Peru, pengembalian artefak Machu Picchu bukan hanya memulihkan sejarah, tetapi juga martabat sebuah bangsa. ## Apa Status Artefak itu Sekarang? Setelah perjanjian 2010, artefak mulai dikembalikan secara bertahap. Pada tahun 2011, kelompok pertama tiba di Peru dan dipamerkan di Museum Machu Picchu di Cusco. Museum ini, yang dibangun sebagai hasil kerja sama dengan Yale, menempatkan lebih dari 300 objek dan menjadi tujuan wisatawan serta peneliti. Walau bagaimanapun, tidak semua artefak dikembalikan. Beberapa objek yang terlalu rapuh atau telah diintegrasikan ke dalam koleksi Yale mungkin tetap di AS. Isu ini terus menjadi topik perdebatan, tetapi setidaknya Peru berhasil memperoleh kembali sebagian besar warisan mereka. Bagi generasi baru Peru, artefak ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi simbol ketahanan dan kedaulatan budaya yang tidak ternilai.

Tersedia dalam: