TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Dianiaya Hingga Mati Atas Tuduhan Sihir? 5 Fakta Menyeramkan yang Dirahasiakan

Selama berabad-abad, tuduhan sihir telah merenggut jutaan nyawa. Namun, tahukah Anda bahwa di balik ketakutan ini tersembunyi realitas yang lebih mengejutkan? Artikel ini mengungkap lima fakta paling mengerikan tentang pemburuan sihir yang mungkin Anda tidak tahu. Dari Mesopotamia kuno hingga zaman modern, praktik ini terus menghantui masyarakat. Bersiaplah untuk terkejut dengan kebenaran yang tersembunyi.

28 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Witchcraft
Dianiaya Hingga Mati Atas Tuduhan Sihir? 5 Fakta Menyeramkan yang Dirahasiakan
Imej: Foto: Wikipedia — Witchcraft (CC BY-SA 4.0)
AI

1. Pemburuan Sihir Bermula Ribuan Tahun Sebelum Salem

Ketika mendengar kata "pemburuan sihir", banyak orang langsung membayangkan peristiwa terkenal di Salem, Amerika Serikat pada tahun 1692. Namun, tahukah Anda bahwa praktik menyalahkan orang lain karena menggunakan sihir sudah ada sejak zaman Mesopotamia kuno? Ya, peradaban yang dikenal sebagai "Lembah Peradaban" ini telah mencatatkan keyakinan terhadap sihir jahat (maleficium) sejak 2000 SM. Kod Undang-Undang Hammurabi, salah satu undang-undang tertua di dunia, menyebutkan hukuman bagi mereka yang dituduh menggunakan sihir untuk melukai orang lain. Pada masa itu, seseorang yang dituduh sebagai penyihir bisa diuji dengan cara dilemparkan ke dalam sungai. Jika dia tenggelam, itu berarti dia bersalah. Jika dia selamat, dia sering dianggap bersalah karena masih hidup. Ironis, bukan? Ini membuktikan bahwa ketakutan terhadap sihir bukanlah fenomena baru, tetapi sudah menjadi bagian dari jiwa manusia sejak ribuan tahun lalu.

2. Jutaan Wanita Terbunuh: Mitos atau Realitas?

Angka pasti jumlah korban pemburuan sihir di Eropa masih menjadi perdebatan antara sejarawan. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2018 menemukan bahwa antara 40.000 hingga 60.000 orang dihukum mati karena tuduhan sihir di Eropa antara tahun 1450 hingga 1750. Yang lebih mengejutkan, sekitar 80% dari korban adalah wanita. Mengapa wanita? Masyarakat pada masa itu sering mengaitkan wanita dengan kekuatan gaib karena sifat mereka yang dianggap lemah, mudah dipengaruhi setan, dan secara tradisional, wanita yang melakukan pengobatan herbal atau bidan sering menjadi target. Namun, ada juga laki-laki dan anak-anak yang menjadi korban. Di beberapa daerah, seperti Jerman dan Swiss, wanita dari kalangan miskin, janda, atau mereka yang tinggal sendiri paling rentan. Ini menunjukkan bahwa tuduhan sihir sering digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan menindas kelompok yang tidak berkuasa dalam masyarakat.

3. Metode "Menguji" Penyihir yang Paling Sadis

Bagaimana cara membuktikan seseorang adalah penyihir? Pada abad pertengahan dan awal modern Eropa, "penguji" menggunakan berbagai metode yang sangat sadis dan tidak masuk akal. Salah satu metode yang paling terkenal adalah ujian air (swimming test). Korban akan diikat tangan dan kakinya, kemudian dilemparkan ke dalam air. Jika dia tenggelam, itu berarti dia tidak bersalah – tapi sayangnya, dia mungkin sudah tenggelam sebelum sempat diselamatkan. Jika dia terapung, itu berarti dia bersalah karena air (yang dianggap suci) menolak tubuhnya. Hukuman mati dengan dibakar di tiang pancang adalah yang paling umum. Namun, ada juga yang dihukum gantung, dirajam, atau dipotong kepala. Di Skotlandia, metode yang disebut "pricking" digunakan – yaitu menusuk tubuh korban dengan jarum untuk mencari "tanda setan" (tempat yang tidak berdarah atau tidak sakit). Jika korban tidak menunjukkan reaksi rasa sakit, dia dianggap bersalah. Bahkan, banyak korban yang harus mengaku untuk menghindari siksaan yang lebih berat.

4. Mitos Sihir di Malaysia: Antara Bomoh dan Tuduhan

Di Malaysia, keyakinan terhadap sihir atau ilmu hitam masih ada dalam masyarakat. Istilah seperti "saka", "santau", dan "ilmu putih" sering disebut dalam percakapan harian. Menurut penelitian oleh Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia, hampir 60% penduduk di daerah pedesaan masih percaya bahwa sihir dapat menyebabkan penyakit, kegagalan bisnis, atau keretakan rumah tangga. Kasus-kasus serangan menggunakan bomoh untuk menyembuhkan korban sihir juga sering dilaporkan. Pada tahun 2019, seorang pria di Kedah didakwa menggunakan bomoh untuk mengobati anaknya yang diganggu saka; sayangnya, pengobatan tersebut menyebabkan anak itu meninggal. Meskipun pemerintah telah membuat UU 574 KUHP yang melarang praktik ilmu hitam dan tindakan melukai orang dengan cara gaib, kasus seperti ini masih terjadi. Ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap sihir bukan hanya tinggal sejarah, tetapi masih hidup dalam masyarakat modern kita.

5. Pemburuan Sihir di Zaman Modern: Masih Terjadi Hari Ini

Mungkin Anda mengira bahwa pemburuan sihir sudah berakhir dengan Zaman Pencerahan. Namun, realitanya berbeda. Di beberapa negara Afrika seperti Tanzania, Kenya, dan Nigeria, banyak orang masih dituduh menggunakan sihir dan dibunuh dengan kejam. Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2020 menyatakan bahwa lebih dari 1.000 orang dibunuh di negara Tanzania setiap tahun karena tuduhan sihir. Di Papua Nugini, wanita yang dituduh sebagai penyihir sering dibakar hidup-hidup oleh komunitas setempat. Bahkan, di India, kasus di mana orang dituduh melakukan sihir dan dipukul hingga mati masih sering dilaporkan di provinsi Assam, Jharkhand, dan Odisha. Pada 2019, seorang wanita berusia 65 tahun di Assam dipukul mati oleh warga desa karena dituduh menyebabkan kekeringan. Semua ini menunjukkan bahwa meskipun kita hidup dalam dunia yang semakin modern, stigma dan ketakutan terhadap sihir masih menjadi sumber kekerasan yang menyedihkan.

---
Rujukan: Witchcraft — Wikipedia

Tersedia dalam: