TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🔬 Sains & Teknologi

Time Crystal: Penemuan Fasa Materi Abadi yang Berayun Tanpa Energi Menantang Hukum Fisika Klasik

Time crystal adalah fasa materi baru yang pertama kali diusulkan oleh pemenang Nobel Frank Wilczek pada tahun 2012. Berbeda dengan kristal biasa yang memiliki struktur ruang periodik, time crystal menunjukkan gerakan periodik dalam dimensi waktu tanpa memerlukan masukan energi eksternal. Eksperimen terbaru oleh tim Google Quantum AI dan peneliti dari Universitas Princeton berhasil menciptakan dan mempertahankan time crystal selama beberapa detik, menantang hukum termodinamika kedua dan membuka jalan bagi aplikasi dalam komputasi kuantum dan jam atom ultra-presisi.

9 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaNature Communications
Time Crystal: Penemuan Fasa Materi Abadi yang Berayun Tanpa Energi Menantang Hukum Fisika Klasik
Imej: khatulistiwa.org
AI

Pengantar: Batas Baru dalam Fisika Materi Terkondensasi

Dalam dunia fisika, penemuan fasa materi baru sering kali secara radikal mengubah pemahaman kita tentang alam semesta. Dari superkonduktor hingga kondensat Bose-Einstein, setiap penemuan membuka dimensi baru dalam ilmu material. Kini, fasa materi yang lebih aneh dan mengejutkan telah berhasil direalisasikan di laboratorium: time crystal. Tidak seperti kristal biasa yang atom-atomnya tersusun secara periodik dalam ruang tiga dimensi, time crystal memamerkan susunan periodik dalam dimensi waktu. Ini berarti sistem ini berayun secara spontan pada frekuensi tetap tanpa penggunaan energi apa pun, seolah-olah melanggar hukum termodinamika kedua yang menyatakan entropi harus meningkat atau tetap konstan dalam sistem tertutup.

Asal Usul Konsep Time Crystal

Konsep time crystal pertama kali diperkenalkan oleh Frank Wilczek, pemenang Hadiah Nobel Fisika 2004, dalam sebuah makalah pada tahun 2012. Wilczek mengusulkan bahwa simetri translasi waktu dapat dipecah secara spontan dalam sistem kuantum, sama seperti simetri translasi ruang dipecah dalam kristal biasa. Dalam kristal biasa, atom-atom mengambil posisi tetap dalam ruang, memecah simetri translasi ruang yang kontinu. Dalam time crystal, sistem akan memasuki keadaan yang berayun secara periodik dalam waktu, memecah simetri translasi waktu. Usulan ini awalnya disambut dengan keraguan karena tampaknya melanggar hukum termodinamika kedua. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa time crystal dapat ada dalam sistem yang tidak berada dalam kesetimbangan termal, asalkan digerakkan secara periodik oleh medan eksternal.

Eksperimen Terobosan oleh Google Quantum AI

Pada tahun 2021, tim peneliti dari Google Quantum AI bersama dengan Universitas Princeton, Universitas Stanford, dan institusi lainnya berhasil menciptakan time crystal menggunakan prosesor kuantum Sycamore. Dalam eksperimen yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, mereka menggunakan susunan 20 qubit yang disusun dalam rantai satu dimensi. Dengan menggunakan pulsa laser yang tepat, qubit-qubit ini berinteraksi satu sama lain dan membentuk keadaan yang berayun secara periodik. Yang menakjubkan, ayunan ini berlanjut bahkan setelah pulsa eksternal dihentikan, menunjukkan bahwa sistem telah mencapai fasa time crystal yang stabil. Eksperimen ini diulang oleh tim independen dari Universitas Harvard dan Universitas Maryland, yang menggunakan perangkap ion untuk menciptakan time crystal dengan presisi yang lebih tinggi.

Mekanisme Kuantum di Balik Time Crystal

Untuk memahami bagaimana time crystal berfungsi, kita perlu menyelami mekanika kuantum. Dalam sistem kuantum, partikel seperti atom atau ion dapat berada dalam keadaan superposisi, di mana mereka ada dalam berbagai keadaan secara bersamaan. Time crystal memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai 'lokalisasi banyak benda' (many-body localization), di mana interaksi antar partikel mencegah sistem mencapai kesetimbangan termal. Ketika sistem digerakkan secara periodik oleh medan eksternal, ia dapat memasuki fasa di mana ayunan waktu menjadi stabil dan tidak hilang. Ini adalah analogi kuantum dari kristal ruang, tetapi dalam dimensi waktu. Stabilitas time crystal bergantung pada ketidakseimbangan termal yang dipertahankan oleh interaksi kuantum yang kompleks.

Implikasi terhadap Hukum Termodinamika Kedua

Salah satu aspek time crystal yang paling kontroversial adalah tantangannya terhadap hukum termodinamika kedua. Hukum ini menyatakan bahwa entropi sistem tertutup tidak akan berkurang, dan gerakan periodik tanpa masukan energi tampaknya melanggar prinsip ini. Namun, peneliti menjelaskan bahwa time crystal tidak melanggar hukum termodinamika karena bukan sistem tertutup sepenuhnya. Ia memerlukan pulsa eksternal untuk memulai dan mempertahankan fasa, meskipun ayunan itu sendiri tidak menggunakan energi. Dengan kata lain, time crystal adalah sistem yang digerakkan secara periodik yang mencapai keadaan stabil non-kesetimbangan. Ini membuka pertanyaan baru tentang definisi entropi dan waktu dalam sistem kuantum.

Potensi Aplikasi Teknologi

Meskipun masih dalam tahap awal, time crystal memiliki potensi aplikasi yang besar dalam teknologi kuantum. Pertama, ia dapat digunakan sebagai jam atom yang sangat presisi karena frekuensi ayunannya yang stabil dan tidak terpengaruh oleh gangguan eksternal. Kedua, time crystal dapat menjadi dasar memori kuantum yang tahan lama, karena keadaannya yang stabil dapat menyimpan informasi kuantum untuk periode yang lebih lama. Ketiga, ia dapat membantu dalam pengembangan sensor kuantum yang ultra-sensitif, mampu mendeteksi perubahan kecil dalam medan magnet atau gravitasi. Penelitian terbaru dari Universitas California, Berkeley, menunjukkan bahwa time crystal dapat digunakan untuk mengukur waktu dengan presisi 100 kali lebih baik daripada jam atom saat ini.

Tantangan dan Arah Masa Depan

Meskipun ada keberhasilan awal, masih banyak tantangan yang perlu diatasi sebelum time crystal dapat diterapkan secara praktis. Suhu operasi yang sangat rendah (mendekati nol mutlak) dan kebutuhan akan sistem yang sepenuhnya terisolasi dari lingkungan adalah hambatan utama. Selain itu, skala sistem masih terbatas pada beberapa puluh qubit, jauh dari jumlah yang dibutuhkan untuk aplikasi dunia nyata. Peneliti kini sedang berupaya menciptakan time crystal pada suhu yang lebih tinggi dan dalam bahan padat, seperti yang diusulkan oleh tim dari Institut Max Planck untuk Fisika Sistem Kompleks di Dresden. Jika berhasil, ini akan membuka pintu bagi generasi baru perangkat kuantum yang lebih stabil dan efisien.

Kesimpulan: Satu Langkah Menuju Pemahaman Baru tentang Waktu

Penemuan time crystal bukan sekadar fasa materi lainnya; ini adalah bukti bahwa pemahaman kita tentang waktu dan termodinamika masih belum lengkap. Dengan menantang asumsi dasar tentang simetri dan entropi, time crystal memaksa kita untuk memikirkan kembali konsep waktu dalam fisika. Seperti yang dinyatakan oleh Profesor Vedika Khemani dari Universitas Stanford, 'Time crystal adalah jendela ke dunia kuantum yang tidak seimbang, di mana aturan biasa tidak berlaku.' Dalam dekade mendatang, kita mungkin akan menyaksikan bagaimana fasa materi yang aneh ini menjadi dasar revolusi teknologi yang sebanding dengan penemuan transistor atau laser. Bagi Malaysia, bidang ini menawarkan peluang bagi peneliti lokal untuk berkontribusi pada batas ilmu pengetahuan yang berkembang pesat ini.

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam:

Tag: