TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Kepunahan Keenam Bumi Sedang Berlangsung — dan Manusia adalah Pelaku Utama

Para ilmuwan memperingatkan bahwa Bumi kini memasuki fase kepunahan keenam dalam sejarahnya, namun kali ini bukan disebabkan oleh asteroid atau letusan gunung berapi raksasa. Sebaliknya, satu spesies — manusia — menjadi penggerak utama krisis ini. Tingkat kepunahan spesies saat ini diperkirakan 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi daripada tingkat alami. Artikel ini mengungkap realitas pahit di balik 'Holocene Extinction' yang sedang mengubah wajah planet kita selamanya.

30 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Holocene extinction
Kepunahan Keenam Bumi Sedang Berlangsung — dan Manusia adalah Pelaku Utama
Imej: Foto: Wikipedia — Holocene extinction (CC BY-SA 4.0)
AI

Bayangkan dunia tanpa teriakan harimau di hutan rimba, tanpa tarian lebah di kebun bunga, atau tanpa nyanyian burung di pagi hari. Ini bukan lagi adegan dari film fiksi ilmiah, tetapi kemungkinan yang semakin nyata. Inilah kisah tentang kepunahan yang terjadi di depan mata kita — senyap, perlahan, tetapi pasti.

Holocene Extinction: Ketika Manusia Menjadi Pemusnah


Holocene Extinction, atau sering disebut kepunahan keenam, adalah peristiwa kepunahan spesies yang masih berlangsung sejak zaman Holocene, yaitu 11.700 tahun lalu. Berbeda dengan lima kepunahan besar sebelumnya yang disebabkan oleh bencana alam seperti asteroid atau aktivitas gunung berapi, kali ini penyebabnya jauh lebih dekat: manusia. Aktivitas kita — dari penebangan hutan hujan tropis hingga pemanasan global — telah mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati pada tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut penelitian terbaru, tingkat kepunahan saat ini antara 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi daripada tingkat alami. Jika tren ini terus berlanjut, ekosistem global akan runtuh dalam beberapa dekade mendatang.

Masa Awal: Dari Kepunahan Pleistocene ke Zaman Manusia


Sebelum Holocene Extinction dimulai secara signifikan, terdapat suatu peristiwa yang disebut Kepunahan Pleistocene Akhir, yang terjadi pada akhir Zaman Es. Pada masa itu, hewan-hewan besar seperti mammoth, harimau taring tajam, dan sloth raksasa menghilang dari muka bumi. Meskipun perubahan iklim memainkan peran, bukti menunjukkan bahwa manusia awal yang berburu mereka secara berlebihan juga turut berkontribusi. Kemudian, dengan penyebaran manusia ke seluruh dunia, terutama melalui migrasi Polinesia ke pulau-pulau terpencil, lebih banyak spesies asli pun punah — seperti burung moa di Selandia Baru, misalnya, atau burung dodo di Mauritius. Setiap langkah manusia seolah meninggalkan jejak kepunahan.

Krisis Modern: Hutan, Lautan, dan Udara yang Berubah


Sekarang, krisis ini mencapai titik kritis. Hutan Amazon yang dahulu dikenal sebagai 'paru-paru dunia' kini ditebang untuk lahan kelapa sawit dan peternakan sapi. Setiap tahun, area hutan seluas Inggris hilang. Di laut, pemanasan global dan peningkatan keasaman air laut membunuh terumbu karang — rumah bagi seperempat spesies laut. Ikan-ikan besar seperti tuna sirip biru semakin punah akibat penangkapan berlebihan. Serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu juga menurun, mengancam pasokan makanan kita sendiri. Semua ini bukan hanya angka statistik — ini adalah tangisan bisu dari alam liar.

Faktor Manusia: Pertumbuhan Penduduk dan Penggunaan Berlebihan


Akar dari semua masalah ini terletak pada pertambahan populasi dan peningkatan penggunaan sumber daya. Manusia kini berjumlah lebih dari 8 miliar, dan angka ini terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkelanjutan, terutama di negara-negara maju, mendorong penggunaan sumber daya secara rakus. Kita ingin lebih banyak daging, lebih banyak pakaian, lebih banyak perangkat elektronik — dan semuanya memerlukan tanah, air, dan energi. Hutan ditebang untuk peternakan, laut dipancing hingga kosong, dan udara dipenuhi karbon dioksida. Setiap tindakan kita, dari sarapan pagi hingga perjalanan ke kantor, meninggalkan jejak karbon yang membunuh spesies lain.

Krisis Kehilangan Habitat: Rumah yang Menghilang


Jika ada satu faktor tunggal yang paling besar menyumbang kepada kepunahan, itu adalah kerusakan habitat. Penebangan liar, perkembangan kota, dan pertanian intensif telah merusak tempat tinggal hewan dan tumbuhan. Di Malaysia saja, hutan hujan yang dahulu luas kini tersisa sebagian kecil, memaksa spesies seperti harimau Malaya dan gajah Asia bersaing dengan manusia untuk ruang. Spesies endemik seperti orang utan dan badak sumbu Sumatera kini berada di ambang kepunahan karena kehilangan habitat mereka. Manusia mungkin tidak berniat untuk membunuh mereka, tetapi setiap hektar hutan yang ditebang adalah langkah tambahan menuju kepunahan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan: Harapan di Tengah Krisis


Meskipun berita ini suram, tidak semuanya hilang. Masih ada waktu untuk mengubah arah, tetapi ini memerlukan tindakan segera dan kolektif. Mengurangi jejak karbon individu, mendukung pertanian berkelanjutan, dan merehabilitasi hutan serta laut adalah langkah penting. Lebih penting lagi, kita perlu mengubah cara kita berpikir tentang alam — bukan sebagai sumber yang bisa dieksploitasi, tetapi sebagai mitra dalam kehidupan. Beberapa spesies yang terancam kini menunjukkan tanda pemulihan melalui usaha rehabilitasi yang gigih. Contohnya, populasi paus bungkuk yang hampir punah kini kembali meningkat berkat larangan pemburuan. Ini membuktikan bahwa ketika manusia bertindak, perubahan mungkin terjadi.

Holocene Extinction mungkin adalah babak paling gelap dalam sejarah Bumi, tetapi ia juga merupakan panggilan bangun yang paling keras. Masa depan spesies lain — termasuk kita — bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini.

---
Rujukan: Holocene extinction — Wikipedia

Tersedia dalam: