TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Misteri Berjalan Tidur: Dari Mengemudi Mobil Hingga Membunuh dalam Tidur

Sleepwalking atau somnambulisme adalah fenomena di mana seseorang melakukan aktivitas kompleks seperti mengemudi, memasak, dan bahkan membunuh dalam keadaan tidur. Walaupun diklasifikasikan sebagai gangguan tidur, kasus-kasus ekstrem mencabar pemahaman saintifik tentang batasan antara sadar dan tidak sadar.

30 Jun 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Sleepwalking
Misteri Berjalan Tidur: Dari Mengemudi Mobil Hingga Membunuh dalam Tidur
Imej: Foto: Wikipedia — Sleepwalking (CC BY-SA 4.0)
AI

Bayangkan Bangun dan Dituduh Membunuh

Pada tahun 2003, Kenneth Parks, seorang pria dari Kanada, mengemudi sejauh 23 kilometer dalam tidurnya ke rumah ibu mertuanya. Dia menikamnya hingga mati dan mencederakan ayah mertuanya. Parks tidak ingat apa-apa. Pengadilan membebaskannya karena didapati tidak bersalah atas alasan sleepwalking—keputusan yang mengejutkan dunia medis dan hukum. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan kekerasan kejam tanpa kesadaran? Inilah titik permulaan misteri yang menggugat definisi kita tentang tanggung jawab dan realitas.

Fakta Dasar: Apa Itu Sleepwalking?

Sleepwalking, atau somnambulisme, adalah gangguan tidur yang diklasifikasikan dalam keluarga parasomnia. Ia berlaku semasa fase tidur gelombang perlahan (slow-wave sleep), yaitu peringkat tidur nyenyak tanpa REM. Dalam keadaan ini, sebagian otak menunjukkan ciri-ciri bangun, sementara bagian lain masih dalam tidur nyenyak. Fenomena ini dipanggil 'gangguan disosiasi keadaan'—keadaan di mana kesadaran terpecah antara dua realitas. Aktivitas yang dilakukan bisa berkisar dari yang sederhana seperti duduk di tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, atau makan, hingga yang berbahaya seperti mengemudi, memasak, atau melakukan keganasan. Mata sleepwalker biasanya terbuka tetapi kelihatan sayu dan kosong, tanpa ekspresi. Insiden ini bisa berlangsung dari 30 detik hingga beberapa menit, dan kebanyakan sleepwalker tidak mempunyai ingatan langsung tentang kejadian itu.

Kasus-Kasus Ekstrem: Mengemudi, Memasak, Membunuh

Antara kasus sleepwalking paling terkenal adalah insiden yang melibatkan aktivitas kompleks. Sebagai contoh, seorang pria di Britania dilaporkan mengemudi mobil sejauh 10 mil dalam tidurnya tanpa kecelakaan. Lebih membingungkan, ada yang memasak makanan lengkap—memotong sayur, menggoreng telur, dan menghidangkannya—tanpa ingatan keesokan harinya. Kasus paling dramatis adalah seperti Kenneth Parks: pembunuhan dalam tidur. Satu lagi kasus melibatkan seorang wanita yang mengemudi ke rumah ibunya dan menikamnya, tetapi kemudian dibebaskan karena bukti sleepwalking. Para ilmuwan masih kabur bagaimana otak bisa mengkoordinasikan pergerakan motor kompleks seperti mengemudi tanpa kesadaran kognitif. Hipotesis mencadangkan bahwa bagian otak yang mengawal pergerakan automatik—seperti basal ganglia—aktif, sementara korteks prefrontal yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan dan kesadaran diri tidak berfungsi.

Hipotesis dan Kontroversi: Realitas atau Alasan?

Walaupun komunitas medis mengiktiraf sleepwalking sebagai fenomena nyata, terdapat skeptisisme yang kuat, terutamanya dalam kasus-kasus keganasan. Sesetengah pakar berhujah bahwa sleepwalking mungkin dijadikan alasan untuk mengelak hukuman. Dr. Michel Cramer Bornemann, seorang pakar tidur, menyatakan bahwa aktivitas kompleks seperti mengemudi memerlukan koordinasi visual dan motor yang tinggi, dan sukar dipercayai ia berlaku tanpa sedikit kesadaran. Namun, kajian menggunakan EEG menunjukkan bahwa otak sleepwalker berada dalam 'keadaan berpecah'—gelombang delta (tidur nyenyak) dan gelombang alfa (sadar) wujud serentak di bagian otak berbeda. Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa membuka mata, bergerak, tetapi tidak bertindak balas terhadap persekitaran dengan cara normal. Kontroversi lain adalah tentang ingatan: walaupun kebanyakan tidak ingat, ada laporan ingatan separa yang jarang berlaku, menimbulkan persoalan tentang tahap kesadaran sebenar.

Faktor Pencetus dan Rawatan: Misteri Berterusan

Faktor yang mencetuskan sleepwalking termasuk kurang tidur, tekanan, demam, alkohol, dan obat-obatan tertentu. Ia lebih biasa pada anak-anak dan biasanya hilang dengan usia, tetapi pada orang dewasa, ia bisa menjadi kronik dan berbahaya. Rawatan utama adalah menguruskan faktor pencetus—seperti memastikan tidur yang cukup dan mengelakkan alkohol. Dalam kasus ekstrem, obat seperti benzodiazepin atau antidepresan bisa diberikan. Namun, tiada penawar khusus. Misteri yang masih belum terjawab: mengapa sesetengah orang bisa melakukan aktivitas berbahaya tanpa cedera? Contohnya, seorang pria dilaporkan berjalan di atas atap rumah dalam tidurnya tanpa jatuh. Adakah otak sleepwalker mempunyai sistem keselamatan dalaman yang tidak difahami?

Batasan Sains: Apa yang Kita Tidak Tahu

Sains masih bergelut dengan persoalan asas: mengapa otak masuk ke keadaan dissosiasi ini? Satu teori mencadangkan ia adalah kecacatan dalam mekanisme 'switch' antara tidur dan bangun—seperti sistem yang tidak berfungsi di mana satu bagian otak 'terjaga' sementara yang lain 'tertidur'. Teori lain mengaitkannya dengan genetik, memandangkan ia sering berlaku dalam keluarga. Namun, tiada model yang bisa meramalkan dengan tepat siapa yang akan sleepwalk atau melakukan tindakan kompleks. Lebih mendalam lagi, fenomena ini mencabar konsep kesadaran itu sendiri: jika seseorang bisa melakukan tindakan bermotivasi seperti membunuh tanpa kesadaran, apakah definisi kita tentang niat dan tanggung jawab moral?

Kesimpulan: Misteri yang Kekal

Sleepwalking adalah satu anomali yang merentas batasan biologi, psikologi, dan hukum. Dari mengemudi mobil hingga membunuh, ia menunjukkan bahwa batasan antara sadar dan tidak sadar adalah lebih kabur daripada yang kita sangka. Walaupun sains telah menemui banyak fakta—seperti hubungan dengan tidur gelombang perlahan dan keadaan dissosiasi—jawapan muktamad masih di luar jangkauan. Setiap kasus baru menambah lapisan misteri, meninggalkan kita dengan tanda tanya yang tidak berkesudahan. Satu perkara pasti: sleepwalking bukan sekadar gangguan tidur, tetapi petunjuk kepada rahasia kesadaran manusia yang belum terungkai.

Tersedia dalam: