Siapa Sebenarnya 'School of Night' dan Mengapa Mereka Dituduh Ateis?
Pada tahun 1592, istilah yang mengejutkan muncul dalam catatan sejarah: 'School of Atheism'. Istilah ini digunakan oleh seorang pendeta bernama Richard Hooker untuk merujuk pada sekelompok pria yang berkumpul di sekitar Sir Walter Raleigh, seorang ksatria, penjelajah, dan favorit Ratu Elizabeth I. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai 'The School of Night'—nama yang diberikan oleh sejarawan modern karena mereka konon mengadakan pertemuan gelap di malam hari untuk membahas ide-ide terlarang.
Anggota yang dikaitkan termasuk Christopher Marlowe, penulis drama terkenal yang karyanya seperti Doctor Faustus dan Tamburlaine mencengkeram norma agama. Turut disebutkan adalah George Chapman, penyair dan penerjemah Homer; Matthew Roydon, penyair yang kurang dikenal; dan Thomas Harriot, seorang matematikawan dan astronom yang hebat. Harriot disebut sebagai orang pertama yang menggunakan teleskop untuk menggambar peta bulan, beberapa bulan sebelum Galileo.
Namun, tuduhan ateisme bukanlah hal ringan. Pada zaman Elizabeth, mengaku tidak percaya kepada Tuhan bisa berakibat hukuman mati. Jadi, mengapa mereka dituduh? Jawabannya mungkin terletak pada studi ilmiah dan filsafat yang mereka lakukan. Kelompok ini disebut mempertanyakan doktrin gereja, meneliti alkimia, astrologi, dan sains alami—semua hal yang dianggap mencurigakan oleh otoritas agama.
Apakah Ada Bukti Kuat bahwa Mereka Bertemu Secara Berkala?
Meskipun nama 'School of Night' terdengar seperti klub eksklusif, tidak ada bukti nyata bahwa semua pria ini pernah bertemu secara tetap. Sejarawan hanya memiliki beberapa dokumen yang menghubungkan mereka. Contohnya, surat dari seorang mata-mata kerajaan bernama Richard Baines pada tahun 1593 menuduh Marlowe sebagai ateis dan menyatakan bahwa dia 'meyakinkan orang lain untuk menjadi ateis seperti dia'. Baines juga mengklaim bahwa Marlowe pernah berkata bahwa 'Yesus adalah bajingan' dan 'Maria Perawan bukanlah perawan'.
Namun, tuduhan Baines mungkin tidak sepenuhnya dapat dipercaya—dia sendiri adalah pembunuh dan pengkhianat yang terkenal. Selain itu, tidak ada catatan resmi yang menunjukkan bahwa Raleigh atau Harriot pernah dihadapkan ke pengadilan karena ateisme. Yang ada hanyalah spekulasi dari penulis modern yang suka meromantiskan gagasan tentang kelompok rahasia yang berani melawan kekuasaan gereja.
Apakah Hubungan Kelompok Ini dengan Ilmu Hitam dan Sihir?
Salah satu tuduhan paling sensasional terhadap 'School of Night' adalah bahwa mereka praktik ilmu hitam. Ini mungkin berasal dari minat mereka terhadap alkimia dan astrologi, yang pada masa itu sering dikaitkan dengan sihir. Christopher Marlowe, dalam drama
Doctor Faustus, menulis tentang seorang pria yang menjual jiwanya kepada setan untuk mendapatkan kekuatan—beberapa sejarawan percaya ini mencerminkan minat Marlowe sendiri terhadap ilmu gaib.
Thomas Harriot disebut menggunakan teleskop untuk 'memanggil roh' atau 'mengintip rahasia langit', tuduhan yang tidak masuk akal tetapi mudah dipercaya oleh masyarakat yang tidak memahami sains. Pada kenyataannya, Harriot hanyalah seorang ilmuwan murni yang meneliti bintang dan planet dengan alat optik baru yang diciptakan. Namun, dalam dunia tanpa batas jelas antara sains dan agama, apa pun yang tidak dimengerti sering dianggap sebagai sihir.
Mengapa Sir Walter Raleigh Jadi Sasaran Utama?
Sir Walter Raleigh adalah tokoh paling berpengaruh dalam kelompok ini. Sebagai favorit ratu, dia memiliki akses ke kekayaan dan kekuasaan besar. Namun, ini juga menjadikannya musuh bagi banyak bangsawan lain yang iri hati. Ketika Raleigh jatuh dari kejayaan setelah kematian Ratu Elizabeth I pada tahun 1603, musuh-musuhnya menggunakan tuduhan ateisme dan pengkhianatan untuk menjatuhkannya.
Raleigh akhirnya ditahan selama 13 tahun di Menara London, dan kemudian dihukum mati pada tahun 1618. Selama persidangannya, salah satu tuduhan adalah bahwa dia 'tidak percaya kepada Tuhan'. Namun, bukti yang diajukan lemah—berdasarkan kabar angin dan fitnah dari mantan rekan perjuangannya. Raleigh sendiri menulis surat dari penjara yang menyangkal tuduhan tersebut secara panjang lebar.
Apakah 'School of Night' Hanya Mitos yang Diciptakan untuk Menakuti?
Sejarawan modern seperti John Shirley dan Frances Yates berpendapat bahwa 'School of Night' mungkin lebih merupakan mitos daripada realitas. Mereka menegaskan bahwa tidak ada dokumen resmi dari zaman Elizabeth yang menggunakan istilah 'School of Night'. Nama itu mulai muncul dalam tulisan abad ke-20, terutama dalam novel
The School of Night oleh Louis Bayard (2002) dan teori konspirasi yang menghubungkan kelompok ini dengan karya-karya Shakespeare.
Ada juga yang percaya bahwa Shakespeare sendiri mungkin bagian dari kelompok ini, atau setidaknya terpengaruh oleh ide mereka. Dalam soneta dan drama Shakespeare, terdapat banyak referensi terhadap tema kegelapan, malam, dan kematian—unsur yang sering dikaitkan dengan 'School of Night'. Namun, ini hanyalah spekulasi. Yang pasti, gagasan tentang kelompok rahasia yang berani melawan dogma agama terus memikat imajinasi banyak orang, karena ia mencerminkan perjuangan antara sains dan keyakinan yang masih relevan hingga hari ini.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kisah Ini?
Meskipun 'School of Night' mungkin tidak ada seperti yang digambarkan, kisah ini mengingatkan kita betapa sulitnya menjadi seorang pemikir bebas pada masa lalu. Mereka yang berani mempertanyakan otoritas gereja atau kerajaan sering dituduh sebagai ateis, penyihir, atau pengkhianat. Ini adalah bentuk kontrol sosial yang digunakan untuk mempertahankan status quo.
Di sisi lain, kelompok ini juga melambangkan semangat Zaman Renaisans—era di mana manusia mulai berani mengeksplorasi bukan hanya dunia fisik tetapi juga dunia ide. Thomas Harriot, Christopher Marlowe, dan Sir Walter Raleigh adalah para pelopor yang membuka jalan menuju sains modern dan sastra Inggris. Mereka mungkin dituduh sebagai 'sekolah ateis', tetapi warisan mereka patut diingat sebagai simbol keberanian intelektual.
Kesimpulan
'School of Night' tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam sejarah Elizabeth. Baik ia benar-benar ada atau hanya legenda, ia telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya sastra dan teori konspirasi. Yang pasti, ia mengingatkan kita bahwa batas antara genius dan kegilaan, antara sains dan sihir, sering kali tipis—dan kadang-kadang, tuduhan paling mengerikan lahir dari ketakutan terhadap apa yang tidak dipahami.
---
Rujukan: The School of Night — Wikipedia
Rahasia 'School of Night': Kelompok Genial yang Dikira Penyihir oleh Ratu Elizabeth. Pada masa kejayaan Ratu Elizabeth I, seorang pria bernama Sir Walter Raleigh disebut memimpin sebuah kelompok rahasia yang disebut 'School of Night'. Anggotanya termasuk penulis drama terkenal Christopher Marlowe dan ilmuwan Thomas Harriot. Mereka dituduh melakukan sihir, meneliti bintang secara ilegal, dan menolak keberadaan Tuhan. Namun, apakah tuduhan itu benar? Atau mereka sebenarnya ilmuwan dan pemikir yang terlalu maju untuk zamannya? Artikel ini akan mengungkap fakta sebenarnya di balik kelompok misterius ini.. Siapa Sebenarnya 'School of Night' dan Mengapa Mereka Dituduh Ateis?
Pada tahun 1592, istilah yang mengejutkan muncul dalam catatan sejarah: 'School of Atheism'. Istilah ini digunakan oleh seorang pendeta bernama Richard Hooker untuk merujuk pada sekelompok pria yang berkumpul di sekitar Sir Walter Raleigh, seorang ksatria, penjelajah, dan favorit Ratu Elizabeth I. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai 'The School of Night'—nama yang diberikan oleh sejarawan modern karena mereka konon mengadakan pertemuan gelap di malam hari untuk membahas ide-ide terlarang.
Anggota yang dikaitkan termasuk Christopher Marlowe, penulis drama terkenal yang karyanya seperti Doctor Faustus dan Tamburlaine mencengkeram norma agama. Turut disebutkan adalah George Chapman, penyair dan penerjemah Homer; Matthew Roydon, penyair yang kurang dikenal; dan Thomas Harriot, seorang matematikawan dan astronom yang hebat. Harriot disebut sebagai orang pertama yang menggunakan teleskop untuk menggambar peta bulan, beberapa bulan sebelum Galileo.
Namun, tuduhan ateisme bukanlah hal ringan. Pada zaman Elizabeth, mengaku tidak percaya kepada Tuhan bisa berakibat hukuman mati. Jadi, mengapa mereka dituduh? Jawabannya mungkin terletak pada studi ilmiah dan filsafat yang mereka lakukan. Kelompok ini disebut mempertanyakan doktrin gereja, meneliti alkimia, astrologi, dan sains alami—semua hal yang dianggap mencurigakan oleh otoritas agama.
Apakah Ada Bukti Kuat bahwa Mereka Bertemu Secara Berkala?
Meskipun nama 'School of Night' terdengar seperti klub eksklusif, tidak ada bukti nyata bahwa semua pria ini pernah bertemu secara tetap. Sejarawan hanya memiliki beberapa dokumen yang menghubungkan mereka. Contohnya, surat dari seorang mata-mata kerajaan bernama Richard Baines pada tahun 1593 menuduh Marlowe sebagai ateis dan menyatakan bahwa dia 'meyakinkan orang lain untuk menjadi ateis seperti dia'. Baines juga mengklaim bahwa Marlowe pernah berkata bahwa 'Yesus adalah bajingan' dan 'Maria Perawan bukanlah perawan'.
Namun, tuduhan Baines mungkin tidak sepenuhnya dapat dipercaya—dia sendiri adalah pembunuh dan pengkhianat yang terkenal. Selain itu, tidak ada catatan resmi yang menunjukkan bahwa Raleigh atau Harriot pernah dihadapkan ke pengadilan karena ateisme. Yang ada hanyalah spekulasi dari penulis modern yang suka meromantiskan gagasan tentang kelompok rahasia yang berani melawan kekuasaan gereja.
Apakah Hubungan Kelompok Ini dengan Ilmu Hitam dan Sihir?
Salah satu tuduhan paling sensasional terhadap 'School of Night' adalah bahwa mereka praktik ilmu hitam. Ini mungkin berasal dari minat mereka terhadap alkimia dan astrologi, yang pada masa itu sering dikaitkan dengan sihir. Christopher Marlowe, dalam drama Doctor Faustus , menulis tentang seorang pria yang menjual jiwanya kepada setan untuk mendapatkan kekuatan—beberapa sejarawan percaya ini mencerminkan minat Marlowe sendiri terhadap ilmu gaib.
Thomas Harriot disebut menggunakan teleskop untuk 'memanggil roh' atau 'mengintip rahasia langit', tuduhan yang tidak masuk akal tetapi mudah dipercaya oleh masyarakat yang tidak memahami sains. Pada kenyataannya, Harriot hanyalah seorang ilmuwan murni yang meneliti bintang dan planet dengan alat optik baru yang diciptakan. Namun, dalam dunia tanpa batas jelas antara sains dan agama, apa pun yang tidak dimengerti sering dianggap sebagai sihir.
Mengapa Sir Walter Raleigh Jadi Sasaran Utama?
Sir Walter Raleigh adalah tokoh paling berpengaruh dalam kelompok ini. Sebagai favorit ratu, dia memiliki akses ke kekayaan dan kekuasaan besar. Namun, ini juga menjadikannya musuh bagi banyak bangsawan lain yang iri hati. Ketika Raleigh jatuh dari kejayaan setelah kematian Ratu Elizabeth I pada tahun 1603, musuh-musuhnya menggunakan tuduhan ateisme dan pengkhianatan untuk menjatuhkannya.
Raleigh akhirnya ditahan selama 13 tahun di Menara London, dan kemudian dihukum mati pada tahun 1618. Selama persidangannya, salah satu tuduhan adalah bahwa dia 'tidak percaya kepada Tuhan'. Namun, bukti yang diajukan lemah—berdasarkan kabar angin dan fitnah dari mantan rekan perjuangannya. Raleigh sendiri menulis surat dari penjara yang menyangkal tuduhan tersebut secara panjang lebar.
Apakah 'School of Night' Hanya Mitos yang Diciptakan untuk Menakuti?
Sejarawan modern seperti John Shirley dan Frances Yates berpendapat bahwa 'School of Night' mungkin lebih merupakan mitos daripada realitas. Mereka menegaskan bahwa tidak ada dokumen resmi dari zaman Elizabeth yang menggunakan istilah 'School of Night'. Nama itu mulai muncul dalam tulisan abad ke-20, terutama dalam novel The School of Night oleh Louis Bayard 2002 dan teori konspirasi yang menghubungkan kelompok ini dengan karya-karya Shakespeare.
Ada juga yang percaya bahwa Shakespeare sendiri mungkin bagian dari kelompok ini, atau setidaknya terpengaruh oleh ide mereka. Dalam soneta dan drama Shakespeare, terdapat banyak referensi terhadap tema kegelapan, malam, dan kematian—unsur yang sering dikaitkan dengan 'School of Night'. Namun, ini hanyalah spekulasi. Yang pasti, gagasan tentang kelompok rahasia yang berani melawan dogma agama terus memikat imajinasi banyak orang, karena ia mencerminkan perjuangan antara sains dan keyakinan yang masih relevan hingga hari ini.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kisah Ini?
Meskipun 'School of Night' mungkin tidak ada seperti yang digambarkan, kisah ini mengingatkan kita betapa sulitnya menjadi seorang pemikir bebas pada masa lalu. Mereka yang berani mempertanyakan otoritas gereja atau kerajaan sering dituduh sebagai ateis, penyihir, atau pengkhianat. Ini adalah bentuk kontrol sosial yang digunakan untuk mempertahankan status quo.
Di sisi lain, kelompok ini juga melambangkan semangat Zaman Renaisans—era di mana manusia mulai berani mengeksplorasi bukan hanya dunia fisik tetapi juga dunia ide. Thomas Harriot, Christopher Marlowe, dan Sir Walter Raleigh adalah para pelopor yang membuka jalan menuju sains modern dan sastra Inggris. Mereka mungkin dituduh sebagai 'sekolah ateis', tetapi warisan mereka patut diingat sebagai simbol keberanian intelektual.
Kesimpulan
'School of Night' tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam sejarah Elizabeth. Baik ia benar-benar ada atau hanya legenda, ia telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya sastra dan teori konspirasi. Yang pasti, ia mengingatkan kita bahwa batas antara genius dan kegilaan, antara sains dan sihir, sering kali tipis—dan kadang-kadang, tuduhan paling mengerikan lahir dari ketakutan terhadap apa yang tidak dipahami.
---
Rujukan: The School of Night — Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/The School of Night