TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Pilar Suci yang Berubah Menjadi Manusia: Misteri Kanrodai yang Memecah Belah Agama

Kanrodai, pilar suci dalam kepercayaan Tenrikyo, dipercayai sebagai tiang penghubung antara langit dan bumi. Namun, konflik terjadi ketika mazhab lain menafsirkannya sebagai manusia hidup. Artikel ini mengungkap rahasia di balik pilar suci ini dan perpecahan yang ditimbulkannya.

30 Jun 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Kanrodai
Pilar Suci yang Berubah Menjadi Manusia: Misteri Kanrodai yang Memecah Belah Agama
Imej: Foto: Wikipedia — Kanrodai (CC BY-SA 4.0)
AI

Pilar Suci yang Dipercaya sebagai Pusat Dunia

Dalam dunia kepercayaan Jepang, ada satu objek suci yang sangat misterius, yaitu Kanrodai. Nama ini mungkin terdengar asing, tetapi bagi penganut Tenrikyo, ia adalah pusat spiritual yang sangat penting. Kanrodai berarti "pentas untuk embun surga" atau secara harfiah "pentas embun manis". Ia dipercaya sebagai tiang fisik yang menghubungkan alam manusia dengan alam surga. Bayangkan, sebuah tiang yang terbuat dari batu dan kayu, diukir dengan teliti, dan ditempatkan di lokasi yang dianggap sebagai pusat penciptaan. Inilah yang dipercaya oleh penganut Tenrikyo sebagai tempat di mana Tuhan menurunkan rahmat dan petunjuk kepada umat manusia.

Menurut catatan sejarah, Kanrodai pertama dibangun pada tahun 1873 oleh Iburi Izō di kediaman Nakayama Miki, pendiri Tenrikyo. Nakayama Miki sendiri dikatakan menerima wahyu ilahi yang mengarahkan pembangunan tiang ini. Sejak itu, Kanrodai menjadi simbol utama dalam ibadah dan upacara keagamaan mereka. Tiang ini bukan sekadar objek biasa, tetapi dipercaya sebagai saluran energi kosmik yang membawa kedamaian dan kebahagiaan ke dunia. Penganut akan berdoa menghadap Kanrodai, memohon berkat dan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

Perpecahan Besar: Tafsiran Berbeda Menggoncang Mazhab


Namun, yang menarik dan kontroversial tentang Kanrodai adalah tafsiran berbeda yang muncul dalam mazhab-mazhab yang bercabang dari Tenrikyo. Mazhab seperti Honmichi, Honbushin, Kami Ichijokyo, dan Tenri Sanrinkō memberikan tafsiran baru yang lebih radikal. Mereka tidak lagi melihat Kanrodai sebagai tiang batu, tetapi sebagai manusia hidup! Ini adalah kejutan besar. Bayangkan, pilar suci yang selama ini disembah sebagai objek fisik, tiba-tiba dianggap sebagai seseorang yang berjalan, berbicara, dan bernapas.

Honmichi, misalnya, mengajarkan bahwa Kanrodai sebenarnya adalah penjelmaan roh suci dalam diri seseorang. Mereka percaya bahwa orang tertentu telah dipilih untuk menjadi "Kanrodai hidup" yang akan membimbing umat menuju keselamatan. Begitu juga dengan Kami Ichijokyo dan Tenri Sanrinkō yang memiliki keyakinan serupa. Tafsiran ini menyebabkan perpecahan mendalam antara Tenrikyo asli dengan mazhab-mazhab ini. Perselisihan bukan hanya tentang teologi, tetapi juga tentang identitas dan otoritas. Siapa yang berhak menentukan apa itu Kanrodai yang sebenarnya?

Kanrodai di Atas Gunung dan Anak Pendiri


Kisah menarik lain datang dari Honbushin. Mazhab ini tidak hanya mengakui Kanrodai sebagai manusia, tetapi juga telah menempatkan Kanrodai batu kecil di puncak Gunung Kamiyama di Okayama. Gunung ini dianggap suci dan menjadi tempat ziarah bagi penganut. Namun, yang lebih mengejutkan, mereka juga mengakui anak dari pendirinya, Ōnishi Tama, sebagai Kanrodai manusia. Artinya, terdapat dua bentuk Kanrodai dalam mazhab yang sama: satu fisik di atas gunung, dan satu lagi hidup dalam diri seseorang.

Situasi ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin dua bentuk yang berbeda bisa hadir secara bersamaan? Apakah keduanya memiliki kekuatan yang sama? Atau apakah salah satunya lebih utama daripada yang lain? Bagi penganut Honbushin, ini bukan masalah karena mereka percaya bahwa roh Kanrodai bisa menjelma dalam berbagai bentuk. Tiang batu adalah simbol, sedangkan manusia adalah wujud nyata. Unik, bukan? Ini menunjukkan betapa kaya tafsiran keagamaan dalam tradisi Jepang, di mana simbol dan realitas bisa bercampur aduk dengan cara yang sulit dipahami oleh orang luar.

Kontroversi dan Perjuangan Identitas


Perbedaan tafsiran ini tidak terjadi dalam vakum. Ia mencetuskan kontroversi dan perjuangan identitas yang sengit di kalangan pengikut. Tenrikyo asli, dengan Kanrodai batu mereka, menganggap tafsiran manusia sebagai sesat dan menyimpang. Sebaliknya, mazhab-mazhab baru seperti Honmichi dan Honbushin mempertahankan tafsiran mereka sebagai wahyu yang lebih tinggi dan relevan dengan zaman modern. Mereka berargumen bahwa Tuhan tidak terikat pada objek mati, tetapi bisa memilih manusia sebagai wadah untuk menyampaikan pesan.

Perselisihan ini bukan hanya soal iman, tetapi juga soal kekuasaan dan pengaruh. Siapa yang dianggap sebagai pemimpin sejati? Siapa yang berhak menafsirkan ajaran asli? Dalam banyak kasus, pengakuan Kanrodai manusia membawa kepada penguatan otoritas individu tertentu dalam mazhab. Ini menjadikan Kanrodai bukan hanya objek spiritual, tetapi juga alat politik dalam dunia keagamaan. Fenomena ini dapat dilihat dalam banyak gerakan keagamaan baru di Jepang dan seluruh dunia, di mana tafsiran ulang simbol suci sering digunakan untuk melegitimasi kepemimpinan baru.

Kanrodai dalam Konteks Global


Menariknya, Kanrodai juga dikenal dalam gerakan keagamaan di luar Jepang, seperti Daehan Cheolligyo di Korea. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Tenrikyo dan mazhab-mazhabnya telah melampaui batas negara. Di Korea, Kanrodai mungkin diberi tafsiran yang berbeda lagi, disesuaikan dengan konteks budaya setempat. Ini membuktikan bahwa simbol keagamaan bisa berubah dan berkembang mengikuti waktu dan tempat. Yang tetap adalah ide tentang hubungan antara manusia dengan yang suci, yang dinyatakan melalui objek atau individu yang dipilih.

Sebagai penutup, Kanrodai mengajarkan kita bahwa keyakinan manusia tidak pernah statis. Ia selalu berubah dan mencoba memahami kita. Baik sebagai tiang batu atau manusia hidup, Kanrodai tetap menjadi simbol kuat tentang pencarian manusia akan makna dan hubungan dengan alam gaib. Bagi pembaca yang tertarik, kisah Kanrodai adalah satu jendela untuk memahami kerumitan dan keindahan dunia keagamaan Jepang dan turunannya. Mungkin, suatu hari nanti, Anda akan berkesempatan melihat sendiri Kanrodai di Tenri, Jepang, atau mendengar kisah tentang Kanrodai manusia di Honbushin. Apapun, satu hal yang pasti: misteri Kanrodai masih belum selesai.

Referensi: Kanrodai — Wikipedia

Tersedia dalam: