TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🔬 Sains & Teknologi

Penemuan Oksigen Gelap di Dasar Lautan Pasifik: Proses Elektrokimia Menantang Teori Kehidupan Tanpa Fotosintesis

Studi terbaru oleh peneliti dari Scottish Association for Marine Science (SAMS) dan institusi internasional mengungkapkan penemuan mengejutkan: oksigen dihasilkan di dasar Samudra Pasifik pada kedalaman 4.000 meter tanpa kehadiran sinar matahari. Proses ini, yang dikenal sebagai 'oksigen gelap', terjadi melalui pemisahan elektrokimia air oleh nodul polimetalik yang kaya akan mangan dan besi. Penemuan ini menantang asumsi bahwa oksigen hanya dapat dihasilkan melalui fotosintesis dan membuka kemungkinan baru untuk kehidupan di planet lain serta pertambangan laut dalam.

11 Julai 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaNature Geoscience
Penemuan Oksigen Gelap di Dasar Lautan Pasifik: Proses Elektrokimia Menantang Teori Kehidupan Tanpa Fotosintesis
Imej: Imej hiasan deterministik (Picsum)
AI

Penemuan Mengejutkan di Zona Clarion-Clipperton

Selama beberapa dekade, para ilmuwan meyakini bahwa oksigen di Bumi hanya dapat dihasilkan melalui fotosintesis oleh tumbuhan, alga, dan sianobakteria yang memerlukan sinar matahari. Namun, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience pada Juli 2024 oleh Dr. Andrew Sweetman dan tim peneliti dari Scottish Association for Marine Science (SAMS) bersama rekan dari Jerman, Amerika Serikat, dan Prancis telah meruntuhkan dogma tersebut. Tim ini menemukan bukti kuat tentang produksi oksigen di dasar Samudra Pasifik, khususnya di Zona Clarion-Clipperton (CCZ), sebuah area abisal pada kedalaman antara 3.500 hingga 4.000 meter. Kawasan ini terkenal dengan konsentrasi nodul polimetalik yang tinggi—bongkahan batu kecil seukuran kentang yang kaya akan mangan, besi, nikel, dan kobalt.

Mekanisme Elektrokimia Nodul Polimetalik

Pada awalnya, para peneliti mengukur penggunaan oksigen oleh mikroorganisme di sedimen dasar laut menggunakan alat inkubasi bentik. Mereka memperkirakan laju oksigen akan menurun secara terus-menerus, tetapi sebaliknya menemukan peningkatan mendadak konsentrasi oksigen di dalam ruang inkubasi yang gelap. Fenomena ini dinamakan 'oksigen gelap' (dark oxygen). Melalui serangkaian eksperimen laboratorium dan analisis kimia, tim menemukan bahwa nodul polimetalik bertindak seperti baterai alami. Permukaan nodul yang mengandung oksida mangan dan besi menghasilkan tegangan listrik yang cukup tinggi (hingga 0,8 volt) untuk memisahkan molekul air (H₂O) menjadi hidrogen dan oksigen melalui proses elektrolisis. Proses ini terjadi secara spontan ketika nodul bersentuhan dengan air laut yang kaya ion, tanpa memerlukan cahaya atau organisme hidup.

Implikasi terhadap Teori Kehidupan di Bumi

Penemuan ini memiliki implikasi mendalam terhadap pemahaman kita tentang asal usul dan distribusi kehidupan di Bumi. Sebelumnya, dianggap bahwa kehidupan di dasar laut yang gelap bergantung sepenuhnya pada 'salju laut'—materi organik yang tenggelam dari permukaan yang diterangi cahaya. Kini, keberadaan sumber oksigen lokal berarti ekosistem abisal mungkin lebih produktif dan kompleks daripada yang diduga. Oksigen gelap dapat mendukung organisme aerobik yang lebih besar, termasuk spons, bintang laut, dan cacing tabung yang ditemukan di kawasan tersebut. Selain itu, proses ini mungkin telah ada sejak miliaran tahun lalu, sebelum evolusi fotosintesis, dan bisa menjadi mekanisme alternatif untuk pengoksigenan lautan awal Bumi.

Potensi untuk Astrobiologi dan Pencarian Kehidupan di Luar Bumi

Penemuan oksigen gelap juga membuka perspektif baru dalam astrobiologi. Jika elektrolisis alami dapat terjadi di dasar laut Bumi, proses yang sama mungkin terjadi di lautan bawah permukaan bulan-bulan seperti Europa (bulan Jupiter) atau Enceladus (bulan Saturnus). Kedua bulan ini diketahui memiliki lautan air asin di bawah kerak esnya, dan keberadaan mineral logam di dasar laut mereka berpotensi menghasilkan oksigen tanpa fotosintesis. Ini berarti kehidupan aerobik mungkin ada di dunia-dunia tersebut, meskipun jauh dari sinar matahari. Dr. Sweetman menyatakan, 'Penemuan ini mengubah cara kita berpikir tentang di mana dan bagaimana kehidupan dapat dimulai dan bertahan di alam semesta.'

Tantangan dan Penelitian Masa Depan

Meskipun penemuan ini menggairahkan, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Tim peneliti kini sedang mempelajari laju produksi oksigen gelap di berbagai lokasi dan kedalaman, serta faktor-faktor yang memengaruhinya seperti komposisi nodul, suhu, dan tekanan. Mereka juga ingin memahami apakah proses ini berkontribusi secara signifikan terhadap keseimbangan oksigen global. Selain itu, penemuan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pertambangan laut dalam. Nodul polimetalik menjadi target industri pertambangan karena kandungan logam berharganya. Jika nodul ini dihancurkan atau dihilangkan, sumber oksigen penting bagi ekosistem abisal mungkin hilang, menyebabkan dampak ekologis yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, studi lebih lanjut sangat diperlukan sebelum aktivitas pertambangan komersial apa pun dilakukan.

Kesimpulan: Sebuah Pergeseran Paradigma

Penemuan oksigen gelap di dasar Samudra Pasifik merupakan salah satu kejutan ilmiah terbesar dalam bidang oseanografi dan geobiologi. Ia tidak hanya menantang teori klasik tentang siklus oksigen, tetapi juga membuka pintu bagi kemungkinan baru tentang kehidupan di Bumi dan di luar Bumi. Dengan setiap penemuan, kita semakin sadar bahwa planet kita masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk diungkap. Studi ini mengingatkan kita bahwa alam seringkali lebih kreatif dan kompleks daripada yang kita bayangkan.

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam:

Tag: