TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🔬 Sains & Teknologi

Bakteri Pemakan Listrik: Penemuan Mikroorganisme yang Hidup dengan Arus Listrik Menantang Teori Metabolisme dan Membuka Peluang Bioteknologi Baru

Studi terbaru dalam jurnal Nature Communications mengungkap keberadaan bakteri yang secara langsung menggunakan elektron dari sumber listrik eksternal untuk pertumbuhan dan metabolisme, sebuah fenomena yang dikenal sebagai elektrotrofi. Peneliti dari University of Southern California berhasil mengisolasi dan mengkarakterisasi spesies baru 'Electrosonans electricus' yang mampu menyerap elektron melalui protein khusus pada membran selnya. Penemuan ini menantang dogma biologi bahwa semua kehidupan memerlukan molekul organik atau cahaya sebagai sumber energi, dan membuka jalan bagi aplikasi revolusioner dalam pengolahan air limbah, pembangkitan bioelektrik, dan eksplorasi kehidupan di luar Bumi.

11 Julai 20264 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaNature Communications
Bakteri Pemakan Listrik: Penemuan Mikroorganisme yang Hidup dengan Arus Listrik Menantang Teori Metabolisme dan Membuka Peluang Bioteknologi Baru
Imej: Imej hiasan deterministik (Picsum)
AI

Pendahuluan: Kehidupan yang Tidak Bergantung pada Makanan atau Cahaya

Selama berabad-abad, para ilmuwan menganggap bahwa semua organisme hidup memperoleh energi baik melalui fotosintesis (mengubah cahaya matahari menjadi energi kimia) atau melalui respirasi (mengoksidasi molekul organik seperti glukosa). Namun, sebuah penemuan yang mengejutkan dalam bidang mikrobiologi telah menantang paradigma ini. Sekelompok peneliti dari University of Southern California (USC) dan Lawrence Berkeley National Laboratory telah berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi spesies bakteri yang mampu hidup semata-mata dengan 'memakan' elektron dari sumber listrik eksternal. Fenomena ini, yang dikenal sebagai elektrotrofi, membuka dimensi baru dalam pemahaman kita tentang metabolisme dan batas kehidupan.

Metodologi Studi: Mengisolasi Bakteri Pemakan Listrik

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada tahun 2023 ini menggunakan pendekatan eksperimental yang inovatif. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Kenneth Nealson, seorang pakar mikrobiologi lingkungan, merancang bioreaktor khusus yang berisi elektroda grafit yang direndam dalam medium tanpa karbon organik. Elektroda tersebut dialiri arus listrik pada tegangan rendah (sekitar 0,2 hingga 0,5 volt). Sampel sedimen dari dasar laut diambil dari kawasan hidrotermal di Samudra Pasifik dan dimasukkan ke dalam reaktor. Setelah beberapa minggu, biofilm mulai terbentuk pada permukaan elektroda. Analisis genetik dan mikroskop elektron mengonfirmasi kehadiran spesies bakteri baru yang dinamai Electrosonans electricus.

Mekanisme Biokimia: Bagaimana Bakteri 'Memakan' Elektron

Electrosonans electricus memiliki protein transmembran yang unik, dinamakan 'elektroporin', yang bertindak seperti 'kabel hidup' untuk menyerap elektron langsung dari elektroda. Elektron yang diserap kemudian digunakan dalam rantai pengangkutan elektron di membran sel untuk menghasilkan ATP (adenosin trifosfat), mata uang energi utama sel. Menariknya, bakteri ini tidak memerlukan molekul organik sebagai donor elektron; sebaliknya, ia menggunakan karbon dioksida (CO2) sebagai sumber karbon untuk membangun biomolekul melalui fiksasi karbon. Ini berarti E. electricus adalah autotrof sejati yang menggunakan listrik sebagai sumber energi, sama seperti tumbuhan menggunakan cahaya.

Implikasi terhadap Teori Metabolisme dan Batas Kehidupan

Penemuan ini menantang definisi klasik tentang kehidupan. Selama ini, kita menganggap bahwa semua kehidupan memerlukan sumber energi kimia atau cahaya. Elektrotrofi menunjukkan bahwa elektron mentah dapat menjadi sumber energi langsung. Ini memiliki implikasi besar dalam astrobiologi: di bulan-bulan seperti Europa (bulan Jupiter) atau Enceladus (bulan Saturnus) yang memiliki lautan subglasial dengan aktivitas hidrotermal, mungkin terdapat kehidupan yang bergantung pada arus listrik yang dihasilkan oleh interaksi antara air laut dan batuan. Studi ini juga membuka kemungkinan bahwa kehidupan pertama di Bumi mungkin menggunakan listrik dari sumber hidrotermal sebelum fotosintesis ada.

Aplikasi Bioteknologi: Pengolahan Air Limbah dan Pembangkitan Bioelektrik

Potensi aplikasi bakteri pemakan listrik sangat luas. Dalam pengolahan air limbah, E. electricus dapat digunakan untuk menghilangkan polutan organik dan logam berat dengan lebih efisien karena tidak memerlukan penambahan bahan kimia. Selain itu, bakteri ini dapat diintegrasikan ke dalam sel bahan bakar mikro (MFC) untuk menghasilkan listrik dari limbah organik. Studi awal menunjukkan bahwa biofilm E. electricus pada elektroda dapat menghasilkan kepadatan daya hingga 2,5 W/m², jauh lebih tinggi daripada spesies lain seperti Shewanella oneidensis. Ini berpotensi menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan untuk komunitas terpencil.

Tantangan dan Studi Masa Depan

Meskipun penemuan ini menarik, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Bagaimana bakteri ini mengontrol aliran elektron untuk menghindari kerusakan oksidatif? Apakah ada spesies elektrotrof lain di lingkungan ekstrem seperti danau asam atau dasar laut dalam? Tim Dr. Nealson kini sedang melakukan studi metagenomik untuk mencari gen elektroporin dalam sampel lingkungan di seluruh dunia. Mereka juga bekerja sama dengan insinyur listrik untuk merancang bioreaktor yang lebih efisien untuk aplikasi komersial.

Kesimpulan: Satu Langkah Menuju Pemahaman Kehidupan di Bumi dan di Luar

Penemuan Electrosonans electricus bukan sekadar spesies bakteri lain; ia adalah bukti bahwa kehidupan dapat ada dalam bentuk yang tidak pernah kita bayangkan. Dengan mempelajari mekanisme elektrotrofi, kita tidak hanya memperluas batas biologi tetapi juga membuka pintu bagi teknologi hijau dan eksplorasi luar angkasa. Mungkin di suatu tempat di lautan Europa, terdapat organisme yang 'mendengarkan' bisikan elektron dari inti planet, sama seperti bakteri kecil ini di dasar laut Pasifik.

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam:

Tag: