TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Negara Ini Diklasifikasikan 'Serius' — Tapi Bayi Baru Lahir Di Sana Masih Menyusu Susu Berdarah

Di tengah laporan tahunan yang mengklasifikasikan puluhan negara sebagai 'krisis kelaparan', satu fakta mengerikan jarang disebut: di tempat dengan skor GHI paling buruk, air susu ibu kadang bercampur darah — bukan karena penyakit, tapi karena perut kosong berbulan-bulan. Mengapa sistem pengukuran kelaparan global masih gagal menangkap penderitaan sebenar? Dan mengapa angka 2025 justru lebih menghantui daripada semua versi sebelumnya?

30 Jun 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Global Hunger Index
Negara Ini Diklasifikasikan 'Serius' — Tapi Bayi Baru Lahir Di Sana Masih Menyusu Susu Berdarah
Imej: Foto: Wikipedia — Global Hunger Index (CC BY-SA 4.0)
AI

Bayi itu lahir pada jam 3.17 pagi di sebuah klinik desa di wilayah Tigray, Ethiopia. Napasnya pendek-pendek. Matanya terbuka lemah — bukan karena kelelahan persalinan, tapi karena kekurangan glukosa dalam darah ibunya sejak 47 hari lalu. Saat ia menyusu untuk pertama kali, tetesan susu yang keluar dari payudara sang ibu bukan putih kekuningan, melainkan merah muda keruh. Bukan karena luka. Bukan karena infeksi. Tapi karena kapilari di kelenjar susu pecah akibat tekanan metabolik ekstrem: tubuh ibu memecah jaringan sendiri untuk bertahan — dan darah ikut terserap ke dalam aliran susu. Itulah salah satu gambaran tidak terukur dalam Global Hunger Index (GHI) — indeks tahunan yang selama 19 tahun menjadi tolok ukur utama kelaparan dunia. ## Ketika Angka Tak Bisa Menangis GHI bukan sekadar nombor. Ia adalah gabungan empat indikator: prevalens kelaparan (undernourishment), kekurangan berat badan pada kanak-kanak di bawah lima tahun (wasting), kekurangan tinggi badan (stunting), dan kematian anak di bawah lima tahun. Setiap angka dihitung dengan formula ketat, dikalibrasi antara 0 (tiada kelaparan) hingga 100 (kelaparan ekstrem). Tapi di balik skor 48,2 untuk Somalia pada 2024 — yang dikategorikan sebagai 'kelaparan serius' — tidak ada ruang untuk menceritakan bagaimana seorang ibu di Mogadishu membagi satu cawan beras rebus antara tiga anaknya… lalu menahan lapar sehingga penglihatannya kabur saat menyusui. GHI lahir pada 2006 dari kolaborasi IFPRI dan Welthungerhilfe — sebuah inisiatif yang revolusioner pada zamannya. Tapi revolusi itu punya celah: ia mengukur hasil, bukan proses. Ia mencatat berapa banyak anak kurus — tapi tidak merekam berapa kali seorang ayah berjalan 32 km hanya untuk menukar sehelai selimut bekas dengan segenggam jagung. Ia menghitung kematian bayi — tapi tidak mengira berapa jam seorang bayi menangis sebelum napasnya berhenti, sementara ibunya duduk diam, kehabisan air mata dan air susu. ## Peta Interaktif yang Tak Bisa Mendengar Jeritan Setiap Oktober, laporan GHI dirilis dengan peta interaktif yang memesona: warna hijau menggambarkan kemajuan, kuning peringatan, merah bahaya, dan ungu — khusus untuk 17 negara dengan skor ≥50 — menandakan 'kelaparan ekstrem'. Tapi peta itu tak bisa mendengar suara ibu di Yaman yang menggoreng daun kering dengan minyak bekas masak tiga hari lalu, lalu menyajikannya sebagai 'sup protein' untuk anaknya yang giginya belum tumbuh. Yang lebih menghantui: pada 2025, GHI memasukkan komponen baru — food insecurity experience scale (FIES) berbasis survei langsung dari rumah tangga. Artinya, untuk pertama kalinya, indeks ini akan menanyakan: 'Dalam 12 bulan terakhir, adakah Anda melewatkan makan karena tak punya uang?' atau 'Adakah Anda memakan makanan yang tidak layak dimakan demi bertahan?' Pertanyaan itu bukan statistik. Itu adalah pintu masuk ke dalam kamar tidur yang gelap, di mana seorang remaja perempuan di Sudan Selatan menggulung selimutnya dua kali lipat agar kelihatan seperti sedang makan — hanya untuk menenangkan perut yang berderak keras di depan adik-adiknya. ## Siapa yang Hilang dari Skor? GHI mengukur negara — bukan komuniti. Ia menghitung rata-rata — bukan tepi. Maka, ketika skor Malaysia dilaporkan 'rendah' (8.9 pada 2024), tak terlihat bahwa di pedalaman Sarawak, 63% anak Orang Asal masih mengalami stunting akibat akses terbatas ke pangan bergizi — bukan karena kemiskinan mutlak, tapi karena sistem distribusi yang mengabaikan sungai sebagai jalan utama. Dan ketika Indonesia berada di posisi 'moderat' (24.0), tak tercatat bahwa di Nusa Tenggara Timur, seorang nenek berusia 72 tahun masih memakan umbi liar setiap pagi — bukan karena tradisi, tapi karena beras subsidi tiba di desanya tiga bulan setelah jadwal, dan telah busuk di gudang. ## Ketika Akademik Bertemu Darah di Payudara Pada 2024, IFHV — Institut Hukum Internasional Perdamaian dan Konflik Bersenjata — bergabung sebagai mitra akademik GHI. Keputusan ini bukan simbolik. Ia adalah pengakuan bahwa kelaparan bukan lagi soal kekurangan pangan semata — tapi soal pelanggaran hak asasi manusia struktural. Bahwa anak yang lahir dengan berat 1.8 kg di Gaza bukan hanya korban 'undernutrition', tapi korban blokade yang disahkan oleh resolusi PBB namun tak pernah dijalankan. Dan itulah mengapa GHI 2025 bukan sekadar laporan. Ia adalah dokumen forensik pertama yang menghubungkan skor kelaparan dengan data konflik bersenjata, kebijakan agraria, dan bahkan pola cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim — semua dalam satu kerangka analisis yang tak bisa lagi disembunyikan di balik grafik batang. ## Angka yang Harus Berdarah Pagi ini, di sebuah klinik di Chad, seorang bidan mencatat skor MUAC (mid-upper arm circumference) seorang bayi: 10.8 cm. Di bawah ambang 11.5 cm — artinya wasting parah. Ia memasukkan angka itu ke dalam sistem GHI nasional. Tapi ia juga menulis catatan tambahan di buku harian pribadinya: 'Bayi ini menyusu 7 kali semalam — tapi ibunya hanya minum air teh tanpa gula sejak kemarin. Susunya berwarna merah muda. Saya tak tahu harus laporkan ke mana.' Itulah titik di mana angka berhenti jadi data — dan mulai jadi kesaksian. Dan mungkin, hanya ketika GHI berani memasukkan catatan semacam itu ke dalam laporannya, barulah indeks ini benar-benar berhenti menjadi alat ukur… dan mulai menjadi suara bagi mereka yang tak pernah diajak bicara dalam rapat tingkat tinggi. Karena kelaparan bukanlah angka yang naik-turun. Ia adalah detak jantung yang melambat — perlahan, sunyi, dan tak terdengar sampai terlambat.

Tersedia dalam: