TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🔬 Sains & Teknologi

Bakteri Purba dalam Kristal Garam Berusia 250 Juta Tahun: Mikroorganisme Halofilik Menantang Batas Kehidupan dan Mungkin Ada di Mars

Sekelompok peneliti dari Westminster College dan Johns Hopkins University berhasil menghidupkan kembali bakteri halofilik yang terperangkap dalam kristal garam sejak era Permian-Triassic, sekitar 250 juta tahun lalu. Mikroorganisme ini menunjukkan kemampuan luar biasa untuk bertahan dalam kondisi kering dan radiasi ultraviolet yang ekstrem, menantang pemahaman sains tentang batas kehidupan. Penemuan ini membuka perspektif baru dalam astrobiologi, khususnya dalam pencarian kehidupan di planet Mars yang memiliki lingkungan garam serupa.

11 Julai 20265 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaGeology (jurnal Persatuan Geologi Amerika)
Bakteri Purba dalam Kristal Garam Berusia 250 Juta Tahun: Mikroorganisme Halofilik Menantang Batas Kehidupan dan Mungkin Ada di Mars
Imej: Imej hiasan deterministik (Picsum)
AI

Pengantar: Kehidupan dalam Perangkap Garam Purba

Ketika kita memikirkan tentang kehidupan purba, biasanya kita membayangkan fosil tulang atau jejak kaki dinosaurus yang membatu. Namun, satu penemuan ilmiah yang mengejutkan telah mengubah persepsi ini secara radikal. Para ilmuwan berhasil mengisolasi dan menghidupkan kembali bakteri yang telah terperangkap dalam kristal garam (halit) sejak zaman Permian-Triassic, yaitu sekitar 250 juta tahun dahulu. Penemuan ini bukan hanya menantang batas usia maksimum organisme yang diketahui, tetapi juga membuka pintu kepada kemungkinan bahwa kehidupan bisa ada dalam lingkungan yang paling ekstrem di Bumi dan di planet lain seperti Mars.

Metodologi Kajian: Menggali Masa Lalu dari Gurun New Mexico

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Geology pada tahun 2023 ini diketuai oleh Dr. Bonnie Baxter dari Westminster College, Salt Lake City, bersama tim dari Johns Hopkins University. Mereka mengambil sampel kristal garam dari Formasi Salado di New Mexico, Amerika Serikat, yang terbentuk dari penguapan laut purba pada akhir era Permian. Dengan menggunakan teknik ekstraksi steril yang ketat, mereka mengisolasi inklusi fluida (fluid inclusions) yang terperangkap di dalam kristal garam. Cairan ini dipercaya tidak terusik selama ratusan juta tahun. Melalui analisis mikroskopik dan penjujukan DNA, mereka menemukan kehadiran bakteri halofilik (suka garam) yang masih hidup dalam kondisi dorman.

Hasil Mengejutkan: Bakteri Hidup Setelah 250 Juta Tahun

Tim peneliti berhasil mengkultur kembali bakteri tersebut dalam medium pertumbuhan khusus yang mengandung konsentrasi garam tinggi. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa bakteri ini termasuk dalam kelompok Halobacteriaceae, yaitu archaea halofilik ekstrem. Lebih mengejutkan, bakteri ini menunjukkan kemampuan untuk bertahan dalam kondisi kering (desiccation) dan radiasi ultraviolet (UV) yang jauh melampaui batas toleransi organisme modern. Uji laboratorium menemukan bahwa sel-sel ini dapat bertahan dalam vakum dan radiasi setara dengan kondisi di permukaan Mars. Ini menunjukkan bahwa mekanisme perlindungan DNA mereka sangat canggih, mungkin melibatkan protein khusus yang memperbaiki kerusakan radiasi.

Implikasi Biologi: Menantang Konsep 'Batas Kehidupan'

Penemuan ini menantang dogma sains bahwa kehidupan tidak dapat bertahan dalam periode geologi yang begitu lama. Sebelumnya, rekor usia tertua untuk mikroorganisme yang dihidupkan kembali adalah sekitar 30.000 tahun dari permafrost Siberia. Namun, penemuan bakteri berusia 250 juta tahun ini menunjukkan bahwa kehidupan dapat memasuki kondisi kriptobiosis (dorman ekstrem) untuk periode yang jauh lebih lama. Para ilmuwan percaya bahwa kristal garam bertindak sebagai kapsul waktu alami, melindungi sel dari radiasi kosmik dan kerusakan kimia. Ini juga menjelaskan bagaimana kehidupan mungkin tersebar melalui meteorit dari satu planet ke planet lain (panspermia).

Kaitan dengan Astrobiologi: Mencari Kehidupan di Mars

Salah satu aspek paling menarik dari penemuan ini adalah kaitannya dengan misi pencarian kehidupan di Mars. Permukaan Mars dipenuhi dengan deposit garam purba yang terbentuk dari penguapan air asin miliaran tahun lalu. Jika bakteri halofilik dapat bertahan dalam kristal garam di Bumi selama 250 juta tahun, maka ada kemungkinan besar mikroorganisme serupa juga dapat ada dalam deposit garam di Mars. Misi Mars 2020 dan ExoMars kini sedang mencari biosignature dalam batuan sedimen, tetapi penemuan ini menyarankan bahwa sampel garam mungkin menjadi target yang lebih menjanjikan. Dr. Baxter menyatakan, "Jika kita ingin mencari kehidupan di Mars, kita perlu melihat ke dalam kristal garam. Ia adalah perangkap kehidupan yang sempurna."

Tantangan dan Kontroversi: Apakah Bakteri Ini Benar-Benar Purba?

Meskipun penemuan ini sangat menggembirakan, ia tidak lepas dari kontroversi. Beberapa ilmuwan meragukan apakah bakteri yang dikultur benar-benar berasal dari era Permian atau mungkin kontaminasi modern. Tim peneliti telah mengambil langkah pencegahan yang ketat, termasuk menggunakan teknik sterilisasi permukaan kristal dan mengonfirmasi bahwa DNA yang dijujuk tidak cocok dengan spesies modern yang diketahui. Namun, argumen utama mereka adalah berdasarkan usia geologi formasi garam dan ketiadaan jalur air tanah yang dapat membawa bakteri modern ke dalam kristal. Studi lebih lanjut menggunakan penanggalan radiometrik pada inklusi fluida mungkin diperlukan untuk mengonfirmasi usia absolut.

Mekanisme Ketahanan: Bagaimana Bakteri Ini Bertahan?

Analisis genomik awal menunjukkan bahwa bakteri ini memiliki gen yang unik untuk memperbaiki DNA yang rusak akibat radiasi dan dehidrasi. Salah satu mekanisme utama adalah produksi protein Dsup (Damage Suppressor) yang serupa dengan yang ditemukan pada tardigrada, tetapi dengan efisiensi yang lebih tinggi. Selain itu, konsentrasi garam yang tinggi di dalam sel bertindak sebagai krioprotektan alami, mencegah pembentukan kristal es yang dapat merusak membran sel. Dalam kondisi dorman, metabolisme sel hampir berhenti sepenuhnya, mengurangi kebutuhan energi hingga hampir nol. Ini memungkinkan mereka untuk 'menunggu' selama jutaan tahun hingga kondisi menjadi sesuai kembali.

Kesimpulan: Satu Langkah Menuju Pemahaman Kehidupan Universal

Penemuan bakteri purba dalam kristal garam ini bukan sekadar keberhasilan teknis, tetapi sebuah pergeseran paradigma dalam biologi dan astrobiologi. Ini menunjukkan bahwa kehidupan jauh lebih tangguh daripada yang kita duga, dan bahwa batas kehidupan mungkin tidak terbatas pada Bumi. Dengan misi luar angkasa yang semakin maju, penemuan ini memberikan harapan bahwa kita mungkin segera menemukan bukti kehidupan di luar planet kita. Seperti yang dikatakan Dr. Baxter, "Setiap kali kita berpikir kita tahu batas kehidupan, alam semesta menunjukkan kepada kita bahwa kita salah. Kristal garam ini adalah jendela ke masa lalu Bumi dan mungkin juga ke masa depan eksplorasi luar angkasa."

Kandungan Ditaja (Sponsored)

Tersedia dalam:

Tag: