TERKINI
🌍 Liputan global 24/7 • 🏯 Asia Timur: China, Jepun, Korea • 🛕 Asia Selatan: India • 🏰 Eropah • 🗽 Amerika • 🌍 Afrika • 🕌 Timur Tengah • 🇵🇸 Solidariti Palestin •
Artikel ini adalah terjemahan dari bahasa asal.
🧠 Tahukah Kamu

Memotong Lengan Sendiri dengan Pisau Tumpul: Kisah Mengerikan Aron Ralston yang Selamat Setelah 127 Jam Terjebak

Aron Ralston, seorang pendaki gunung berpengalaman, terjebak selama 127 jam di Bluejohn Canyon, Utah, ketika sebongkah batu besar menghancurkan pergelangan tangannya. Tanpa air, makanan, dan harapan, ia mengambil keputusan paling ekstrem dalam hidupnya: mematahkan tulang lengan kanannya dan memotongnya dengan pisau lipat yang tumpul. Kisah ini adalah bukti ketahanan manusia yang tak kenal menyerah.

30 Jun 20263 minit baca0 tontonanOleh Redaksi KhatulistiwaWikipedia — Aron Ralston
Memotong Lengan Sendiri dengan Pisau Tumpul: Kisah Mengerikan Aron Ralston yang Selamat Setelah 127 Jam Terjebak
Imej: Foto: Wikipedia — Aron Ralston (CC BY-SA 4.0)
AI

Saat Batu Itu Jatuh

Pada 26 April 2003, Aron Ralston, seorang insinyur mekanik dan pendaki gunung berusia 27 tahun, memulai penjelajahan solo di Bluejohn Canyon, Utah. Ia terbiasa dengan tantangan — pernah mendaki 49 dari 54 puncak tertinggi Colorado. Namun, tidak ada yang mempersiapkannya untuk momen itu.

Saat ia menuruni ngarai yang sempit, sebongkah batu besar seberat 360 kilogram tiba-tiba terlepas, menghimpit lengan kanannya ke dinding batu. Jeritan kesakitan bergema di antara tebing-tebing ngarai, tetapi tidak ada seorang pun yang mendengar. Ia terjebak — sendirian, di dalam ngarai terpencil, dengan batu yang menghancurkan pergelangan tangannya.

127 Jam Dalam Keputusasaan


Jam-jam pertama adalah kejutan. Aron mencoba menggeser batu itu, tetapi sia-sia. Ia menggunakan pisau tumpulnya untuk mengorek batu, tetapi bilahnya patah. Airnya hanya tersisa 300 mililiter. Makanan? Beberapa gigitan tortilla dan permen.

Hari kedua: dehidrasi mulai menguasai. Aron menulis namanya, tanggal lahir, dan pesan terakhir di dinding batu. Ia merekam video perpisahan untuk keluarganya. "Saya minta maaf," katanya dengan suara tercekat.

Hari ketiga: halusinasi. Ia melihat anak khayalan — seorang anak laki-laki berambut pirang yang memegang tangannya. Mimpi itu memberinya kekuatan, tetapi kenyataan tetap kejam.

Hari keempat: keputusasaan berubah menjadi tekad. Aron tahu, jika ia ingin hidup, ia harus kehilangan lengannya.

Keputusan yang Menggemparkan


Dengan pisau lipat yang tumpul — hanya sepanjang 5 sentimeter — Aron mulai memotong. Pertama, ia mematahkan tulang lengan bawahnya dengan membenturkannya ke batu. Suara retakan bergema di ngarai. Kemudian, ia memotong daging, urat, dan saraf. Proses itu memakan waktu lebih dari satu jam. Darah mengalir deras, tetapi ia terus memotong.

"Ini bukan pilihan. Ini satu-satunya jalan," katanya dalam hati.

Ketika lengan itu akhirnya terputus, ia mengikat tourniquet dari tali pendakian dan memanjat keluar dari ngarai. Di belakangnya, ia meninggalkan batu itu — dan sebagian dari dirinya.

Keajaiban Setelah Mimpi Buruk


Dengan satu lengan, Aron berjalan 11 kilometer melintasi gurun Utah. Ia menuruni tebing setinggi 20 meter dengan tali, dan akhirnya bertemu dengan sekelompok turis Belanda yang memberinya air dan memanggil helikopter penyelamat.

"Saya tidak percaya Anda masih hidup," kata petugas penyelamat.

Aron dilarikan ke rumah sakit, kehilangan 18 kilogram berat badan dan 35 persen darahnya. Tetapi ia hidup.

Setelah Tragedi: Kehidupan Baru


Kisah Aron Ralston menjadi inspirasi global. Buku otobiografinya, Between a Rock and a Hard Place, menjadi buku laris, dan film 127 Hours yang disutradarai Danny Boyle memenangkan berbagai penghargaan. Aron kini menjadi pembicara motivasi, telah menikah, dan memiliki dua orang anak.

Lebih menakjubkan: ia terus mendaki. Pada tahun 2005, ia menjadi orang pertama yang mendaki semua 54 puncak tertinggi Colorado sendirian di musim dingin. "Saya kehilangan lengan, tetapi saya tidak kehilangan semangat," katanya.

Mengapa Kita Bisa Percaya pada Keajaiban


Kisah Aron bukan sekadar tentang bertahan hidup secara fisik, tetapi juga tentang kekuatan mental. Dalam keputusasaan tergelap, ia memilih untuk tidak menyerah. Ia mengubah rasa sakit menjadi tindakan, dan ketakutan menjadi harapan.

"Kita semua punya batu dalam hidup kita," katanya dalam sebuah wawancara. "Yang penting, kita memilih untuk memotong atau terus terjebak."

Aron Ralston mengajarkan kita bahwa terkadang, satu-satunya jalan keluar adalah melalui luka terdalam. Dan dari luka itu, lahir kehidupan baru.

---

Tersedia dalam: